Minggu lalu saya kedatangan tamu istimewa; duo Yana Ewok dan Bool di ruangan saya di kantor redaksi.
Saat obrolan sampai pada masalah stadion, mereka bilang, tiket yang diputar, pemilik tiket tidak dapat tempat duduk, dan calo yang merajalela, akan terus terjadi di Liga 2007.
Bukan karena kinerja panpelnya yang lemah, tapi masalah besarnya adalah rumus supply dan demand. Bobotoh fanatik yang ingin menyaksikan Pangeran Biru berlaga, jumlahnya jauh lebih banyak dibanding kapasitas stadion sendiri. Akibatnya terjadilah kondisi yang memang tidak akan mampu ditanggulangi panpel mana pun.
Jalan keluarnya, menurut duo viking itu adalah pembangunan stadion baru dengan kapasitas lebih besar menjadi keharusan yang mendesak.
Hari-hari ini kita memang menyaksikan gairah pembangunan yang luar biasa di Bandung, jalan bolong ditambal dan dilebarkan, sungai dikeruk, trade center dan mall dibangun. Tentu sangat bagus, karena sebuah pusat perbelanjaan dapat menampung ratusan pegawai. Pengangguran bisa ditekan dengan efektif.
Namun sejalan dengan itu, pembangunan arena olaharaga yang representatif juga sangat mendesak. Proposal bisa mulai coba ditawarkan pada investor dalam dan luar negeri, jika perlu termasuk hak pengelolaan stadion dalam pelaksanaan pertandingan untuk sekian tahun agar mereka bersedia membiayai sendiri dan agar kita tidak merogoh kantong APBD dan tidak mencekiknya.
Untuk biaya perawatan berikutnya, sebuah arena yang didesain dengan berbagai aktivitas penunjang seperti mess pemain, perkantoran yang disewakan, rumah makan, café, FO, bahkan tempat seminar, dapat menjadi penunjang.
DPRD dan eksekutif harus mulai membicarakan hal ini secara serius, sebab jika tidak, kita akan mendengar teriakan ketidakpuasan dari calon penonton yang jumlahnya puluhan ribu itu, dan lebih jauh lagi, akhirnya pada suatu titik, kita akan melihat mereka yang kecewa tersebut tidak datang lagi ke stadion, atau… jangan sampai terjadi: kita akan menuai badai anarkisitis.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar