KORAN FESBUK's Fan Box

14 September 2008

PINGGIR LAPANG

Kartu Kuning Pertama untuk Panpel!

Karena kita semua cinta Persib, karena Persib menggunakan APBD 15M yang harus dipertanggungjawabkan dengan prestasi yang baik, dan kita juga mengetahui Persib mendapat hukuman Komdis akibat melubernya bobotoh ke dalam stadion, serta karena stadion berkapasitas besar belum dibangun, padahal pertandingan akan terus dilaksanakan di Stadion Siliwangi sampai LDI 2007 selesai, maka, dengan berat hati, kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

Bobotoh, hindarkan datang ke Stadion Siliwangi kalau sebelumnya tidak memiliki tiket.

Jika tetap ingin datang, mari berlaku tertib duduk-duduk di luar, tidak mencoba masuk ke dalam stadion. Bikin saja keriaan di luar: Joget, nyanyi, dll. Teman-teman radio (Dahlia, Rama, Garuda, Paramuda) Barangkali bisa pasang sound system, dan me-relay RRI? Agar bobotoh berkumpul di depan OB Van anda.

Jika ada siaran langsung Anteve atau Lativi, instansi atau kelompok bobotoh bisa mengadakan acara nonton bareng di tempatnya.

Petugas kemanan sebaiknya diplot juga di luar semua gerbang pintu masuk, bukan hanya di dalam stadion.

Petugas keamanan mulailah merazia calo, dan investigasi, dari mana tiket mereka berasal.

Petugas keamanan tidak melihat lapang, tetapi melihat ke arah penonton.

Kepada Panpel, sudahkah hal-hal di atas dikoordinasikan? Sudahkah meminta radio mendukung panpel untuk penggunaan OB VAN nya?

Sudahkah membuat kerjasama yang solid dengan TV lokal untuk membuat dan mengoperasikan giant screen dengan lebih serius?

Sudahkah membuat laporan tertulis kepada pihak kepolisian mengenai banyaknya terjadi praktek percaloan karcis?

Sudahkah berbicara dengan komandan petugas keamanan,atau pimpinan organisasi yang bertugas pada pengamanan tiket masuk, mengenai adanya oknum anggota mereka yang membuat terjadinya tiket kriting?

Sudahkah melakukan itu?

Jangan lupa, kewajiban Panpel,seperti tertulis dalam manual liga Indonesia 2007 Bagian C, tentang penyelenggaraan pertandingan, pasal 8: Menjamin keamanan, ketertiban, kenyamanan, dan keselamatan penonton.

Seharusnya Panpel bersyukur, karena Persib selalu dicintai bobotohnya, sehingga tidak kurang penonton. Yang harus dilakukan, tinggal bagaimana mengendalikan mereka di lingkungan stadion. Bayangkan dengan team lain: Pendukungnya terbatas, yang datang ke stadion sedikit. Panitia pelaksananya pasti akan lebih pusing menghadapi situasi ini. Ingat saja dengan Sutiyoso, yang harus membagi-bagikan kaos dan atribut serta tiket masuk gratis untuk membuat pertandingan Persija ada yang menonton. Kita? Jangankan mendapat terimakasih dengan layanan kepada pembeli tiket yang telah membayar dengan harga tertinggi di Indonesia itu, eh, malah sudah masuk pun harus tetap sengsara tidak mendapat tempat duduk.

Saudara, maaf, menurut manual liga, sekali lagi, itu adalah tugas panpel, lain tidak!


BOBOTOH MENEROBOS, SEBENARNYA MAMPUKAH PANPEL KITA?

Di tengah kerumunan orang yang menyemut di bibir jalan, dua mobil -yang salah satunya dikendarai Alex Asmasubrata, dipacu dengan kecepatan 150 km per jam di Jalan By Pass Soekarno Hatta,depan Polda Jabar. Pada saat yang sama, saya berdo’a dengan Almarhum Keith Robino –pengurus IMI Pusat, dan Project Officer yang saya tunjuk. sambil jantung ketar-ketir di ujung jalan, takut mobil peserta tiba-tiba oleng tidak terkendali dan menabrak penonton yang berdiri padat tanpa penghalang. Kami berdo’a agar hujan maha lebat terjadi, sehingga lomba bisa kami hentikan.

Itu adalah peristiwa sekitar 15 tahun lalu, saat radio yang saya pimpin menggelar event national drag race.

Sepulang dari venue, saya panggil PO, dan kita evaluasi, agar peristiwa serupa tidak terulang.

Kejadian kedua yang juga bikin ketar-ketir, adalah sebuah konser tunggal dari sebuah band Amerika, kelompok pengusung aliran reggae, Inner Circle, yang saat itu lagunya,

a la la la lalong, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia. Kami membuatnya di Eldorado Dome, jalan Setiabudi.

Pertunjukkan seharusnya dimulai jam 21.00. Namun, sampai pukul 23.00, Inner Circle keukeuh menolak tampil, karena drum machine yang mereka bawa, tertinggal di Cengkareng, Jakarta. Saya mencoba membujuk mereka untuk tetap tampil tanpa alat vital itu, karena kekeliruan tidak berada di pihak saya, melainkan akibat kecerobohan crew mereka sendiri dalam mengamankan peralatan, di tengah-tengah teriakkan penonton yang mulai tidak sabar menginginkan pertunjukkan segera dimulai karena malam makin larut. Berbekal pengalaman mengelola drag race, saya segera minta Denny dan Iszur untuk naik ke atas pentas mengocok perut pengunjung yang hadir, sehingga mereka bisa sedikit ditenangkan.

Dua peristiwa itu selalu saya ingat sampai sekarang, kesimpulannya adalah, saya dan team tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan segala aspek, sehingga keruwetan yang berkaitan dengan jalannya lomba dan pertunjukkan terjadi.


Tiga hari yang lalu, saya ditelefon Pak Anhar Sanusi, Viking BOBOKO, yang bercerita mengenai kurang profesionalnya Panpel Persib, sehingga bobotoh merangsek ke pinggir lapangan. Saya setuju dengan Pak Anhar. Seperti yang saya alami dalam event drag race di atas, maka kehebohan itu terjadi karena kita sebagai penyelenggara, tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengatasi lonjakkan penonton. Saya tidak boleh menyalahkan siapa pun. Karena kesalahan sepenuhnya berada di pundak saya atas kekeliruan saya menunjuk Project Officer, karena penyelenggaraan event itu memang hajat saya. Saya yang mengundang penonton datang, langsung atau tidak langsung.

Stadion Siliwangi yang kecil,dari dulu pun kita sudah tahu. Bobotoh yang selalu datang membludag ke stadion, sejak tahun kemarin, ketika prestasi Persib jelek, juga semua orang sudah tahu. Karcis kriting yang bolak-balik membuat orang masuk ke stadion, juga bocornya penonton yang leluasa masuk dengan harga Rp 3.000,- dan mengakibatkan penuh sesaknya stadion di luar batas kapasitasnya, semua orang juga sudah tahu.

Namun, peristiwa ini berulang terus, tanpa pembicaraan, diskusi serius, dan penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah itu.

Tudingan malah diberikan kepada stadion yang kecil, Anteve yang tidak menyiarkan, dan seribu alasan lainnya. Padahal titik pokoknya adalah, panpel, tidak bersungguh-sungguh menyiapkan perangkat untuk secara preventif menjaga penonton di dalam dan luar stadion, agar peristiwa Selangor tidak terulang.

Kita akan menghadapi hajat besar lagi menghadapi PSMS dan Persija. Disiarkan atau tidak oleh ANteve, bobotoh akan membludak datang ke Stadion Siliwangi. Adalah sebuah keharusan, jika Panpel, mulai hari ini, secara bersungguh-sungguh mulai membicarakan penanganan penonton dan mereka yang tidak bisa masuk ke stadion, bersama aparat keamanan, pimpinan-pimpinan kelompok bobotoh, dan berbagai unsur lainnya, sehingga nama Persib dan Bandung tidak tercemar oleh ketidakmampuan kita sebagai penyelenggara dalam mengelola pertandingan. Jangan sampai harus ada korban terlebih dahulu untuk mulai melakukan perbaikan. Selamat bekerja!


Ayoo, BOBOTOH for PERSIB!

Asyiiiik, kita menang! Sebuah hasil yang sangat nikmat, karena selain pemain telah mempertontonkan permainan yang luar biasa, juga kemenangan ini harus kita syukuri, karena Persik Kediri adalah juara liga tahun lalu. Kemenangan ini, seperti dikatakan Kang Yosi, menjadi jalan pembuka lebar bagi Persib untuk mengarungi ganasnya ajang kompetisi Liga Djarum Indonesia 2007.


Selanjutnya, di luar sorotan hasil pertandingan kemarin, seperti banyak ditulis media, Persib adalah memang sebuah team yang besar.

Apa ukuran sebuah team dikatakan besar? Tentu karena banyaknya prestasi yang telah diukir Persib selama ini. Dengan kata lain, mustahil sebuah team dikatakan besar atau elite, jika prestasi nya nol.

Berbicara prestasi, bagi sebuah team sepakbola pasti didapat oleh kerjasama dan keterpaduan pengurus, manajemen, dan pemain itu sendiri. Kerjasama dan kerja keras unsur-unsur itulah, kemudian menghasilkan prestasi. Persib kemudian bisa dikatakan sebagai team bernama besar, karena memang beragam prestasi telah diperoleh, sehingga menjadi tidak hanya sekedar kesebelasan kesayangan masyarakat Bandung, bahkan telah menjadi ikon dan jajaten Jawa Barat.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita menghargai mereka yang telah memberi nama harum itu?

Kita mendengar pengurus dan manajemen bekerja tanpa honor. Bahkan Pak Wowo Sunaryo, yang berjuluk Macan Asia, dan kini terbaring sakit di RS Immanuel akibat maag akut, ginjal, dan stroke ringan, dengan sangat terpaksa oleh pihak keluarga akan dibawa pulang karena tidak sanggup dibiayai perawatan sakitnya.

Beruntung ada H. Chandra Solehan yang akan menggalang dana untuk meringankan beban keluarga Pak Wowo, sehingga perawatannya bisa dilanjutkan di Imannuel.

Sebuah langkah mulia, tapi kemudian membuat kita merenung; Berapa banyak lagi Wowo-Wowo lainnya yang juga mengalami nasib yang sama? Dan kemudian mengalami kesulitan ekonomi karena sudah terpental dari putaran zaman?

Bobotoh, kita harus bertindak. Persib memerlukan dukungan dana, sebutlah semacam Dana Abadi, yang bunganya bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Tabloid Bobotoh, setelah menggulirkan program Udunan untuk Stadion, yang kemarin distop sementara, karena kondisi yang ada menggulirkan kembali udunan ini. Bekerja sama dengan Bank Saudara, mulai minggu ini kita menggulirkan program dengan nama: Bobotoh for Persib. Beberapa penyumbang yang sudah masuk kami tampilkan mulai edisi ini. Harapan kami, seberapapun seumbangan yang diberikan nantinya, akan menginspirasi semua pihak –perorangan, perusahaan, bahkan media secara bersama, untuk mulai melancarkan dukungan finansial untuk Dana Abadi bagi Persib. Ayo kita mulai, semoga Allah bersama kita. Bismillah..

Ini dia, Provinsi Surplus Stadion!!

Membaca koran Pikiran Rakyat minggu lalu, saya memperoleh sesuatu yang bikin tersenyum dan rada keuheul. Kesimpulan beritanya adalah, pernyataan akan direnovasinya Stadion Siliwangi agar kapasitas penontonnya bisa ditingkatkan,. lalu statement Walikota Bandung Pak Dada Rosada yang akan menyegerakan membuat stadion di Gedebage, dan terakhir, ternyata Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berencana akan membuat stadion di Padalarang.

Yang membuat saya tersenyum adalah, ya.. , itu.. , soal tiga stadion itu. Di tengah-tengah ripuhna pengen nonton Persib di Siliwangi -yang pasti kalau go show hanya akan mendapat tiket di calo dengan harga dua kali lipat, eh ini mah nggak tanggung-tanggung, para pejabat semuanya pada sibuk mau bikin stadion besar sendiri-sendiri, sampai kalau jadi dan dijumlah, diseputar Bandung Raya akan ada empat stadion sekaligus : Siliwangi, Gedebage, Padalarang, dan Si Jalak Harupat di Soreang.

Sumpah, saya kehabisan ide untuk menjelaskan kepada isteri saya –Ika, yang bertanya, kenapa mereka nggak duduk sama-sama satu meja, lalu merundingkan agar sesegera mungkin ke tiga pihak yang sangat kompeten itu membuat stadion besar baru satu saja dengan biaya bersama. Kalau hal itu dilakukan, rasanya sang stadion impian itu akan cepat terealisasi dan biaya pun jadi ringan karena ditanggung beberapa pihak.

Kenapa mereka tidak melakukannya? Awas! Jangan berpikir yang tidak-tidak, bahwa dengan begitu pejabat bisa korupsi dari pembangunan stadion! Tapi berpikir lurus saja: Ini akibat masalah laten: Kurang koordinasi, atau masing-masing memang tidak pernah saling ngobrol soal stadion, yang selalu diangkat koran, tv lokal, radio, dan tabloid ini di setiap ada kesempatan.

Menurut saya, barangkali akan ideal, jika kesulitan Pemkot Bandung dalam upayanya untuk membangun stadion bagi kandang Persib lebih didahulukan, dengan dukungan dan kerjasama berbagai pihak. Sebab jika hal ini tidak segera dilaksanakan, maka jumlah penonton dan kapasitas Stadion Siliwangi yang sudah sangat tidak memadai itu akan dapat menuai cerita yang mengerikan: Kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat penonton yang berdesakkan bisa terjadi. Ingat Tragedi Heysel!! Ingat juga peristiwa tawuran di Itali akibat keamanan stadion yang kurang memadai. Iiihh! Jadi ngeri kalau melngingat hal itu. Amit amit, jangan sampai terjadi di sini.

Jika koordinasi dilakukan, juga tentunya Stadion untuk Persib tidak akan terjadi seperti cerita Si Jalak Harupat yang bangunannya gagah perkasa itu, tapi jalan akses masuk dan keluarnya sungguh sangat memprihatinkan.

Punten pisan saya menulis ini, da sumpah, saya bingung ngabandunganana. Asa rudet mikiran stadionn yang gak jadi-jadi karena memang biayanya super gede itu. Barangkali ada pejabat yang bisa menjelaskan? Atau kita ganti saja nama provinsi Jawa Barat yang asalnya kekurangan stadion ini jadi Provinsi Surplus Stadion?

KAMI BERUBAH

Terimakasih kami sampaikan kepada anda, yang telah berkenan membantu kami lewat polling yang telah diselenggarakan dalam pengambilan keputusan untuk mempercepat penggantian jenis kertas Tabloid Bobotoh dari HSSD menjadi NPSD (News Paper Standard). Sehingga mulai edisi ke-17 ini , anda akan memperoleh Tabloid Bobotoh dengan menggunakan kertas standard surat kabar, dan bukan lagi kertas putih.


Sidang pembaca yth, semenjak awal, sebenarnya kami sangat ingin untuk langsung menggunakan kertas koran sebagai medium tabloid ini, karena format TB yang padat tulisan akan menjadi tidak nyaman jika dicetak pada kertas putih. Akan melelahkan mata.

Juga, karena sources bahan pembuatannya yang makin terbatas, jenis kertas putih pada masa yang akan datang harganya akan jauh melampaui harga kertas koran. Sebagai bandingan, koran-koran dan tabloid besar baik di dalam dan di luar negeri sangat menjauhi jenis kertas putih, karena pertimbangan di atas. Itulah mengapa, kemudian mereka mampu memberikan jumlah halaman yang tebal kepada pembacanya, karena biaya produksi bisa ditekan. Itu juga keinginan kami untuk dapat terus memanjakan bobotoh sekalian ke depan, bagaimana TB bisa hadir lekas, lengkap, dan tuntas.

Mengapa kertas HSSD kami pilih? HSSD adalah jenis “tengah-tengah” antara kertas putih dan kertas koran. Kertas yang kami pilih sebagai kompromi antara pasar dan positioning kami.

Dalam perjalanannya, banyak masukkan kepada kami dari pembaca agar TB menggunakan kertas putih disertai catatan tidaklah mengapa harga TB naik, namun kami belum bisa memenuhi tuntutan itu. Karena target kami adalah, bagaimana TB bisa dibaca oleh sebanyak-banyaknya masyarakat Jawa Barat. Pembaca harus bisa mendapatkan TB dengan harga terjangkau.

Untuk itulah, setelah 15 edisi, kami mencoba mengukur seberapa besar resistensi kepada TB apabila merubah kertas, maka kami mencoba melakukan polling. Hasilnya, ternyata dari 321 peserta yang mengirim masukan, 289 menyatakan setuju kertas berubah, dan sisanya (32) tidak. 100 orang pengirim sms pertama, kami muat pada kolom sebelah untuk mendapatkan hadiah subsidi tiket. Tentu hadiah yang sangat tidak berarti dibanding peran serta anda menuntun kami dalam membuat keputusan.

Kemudian, karena pembaca mayoritas menyetujui perubahan, maka dengan serta merta pula kami langsung mempercepat perubahan kertas, mulai edisi ini. Kami tampil full color, dan 2 minggu sekali kami berikan bonus poster dengan bahan art paper, agar anda bisa memajangnya dalam waktu yang lama.


Soal APBD: Mikir Jangan Ngaco!!

Suara sangat tidak merdu yang dinyanyikan Mendagri minggu lalu, benar-benar telah mengganggu harmonisasi irama yang dikumandangkan menyongsong bergulirnya Liga Indonesia XIII.

M. Machruf dan beberapa kalangan hanya melihat sisi negatif: Kucuran dana APBD untuk klub hanya menjadikan dana untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan anggaran pembangunan lainnya tidak optimal, karena sebagian dana dikuras untuk klub dengan prestasi yang menurutnya tidak pantas.

Nada minor lain yang disebutkan adalah, kucuran APBD itu hanya menjadi alat kendaraan politik agar bupati atau walikota terpilih lagi pada pemilihan berikut.

Inilah wajah negara yang baru keluar dari kandang keterkungkungan, pendulum kita cenderung bergerak ke arah ekstrem: Setiap langkah selalu saja dikait-kaitkan dengan politik. Juga ketika pendulum ada di sebaliknya: Ketika masih terkungkung, dengan bisik-bisik selalu saja ditiupkan rumours politik. Masalah yang sebenarnya sederhana, jadi melebar kesana-kemari.

Dana APBD bagi klub, sami mawon, jadi konsumsi politik juga. Sedemikian salah kaprahnya beberapa anggota DPRD berpikir; membandingan kucuran dana klub dibandingkan dengan anggaran pendidikan dan kesehatan. Lia Nurhambali dalam wawancara dengan Bandung TV mengatakan: Dana Tunjangan anggota DPRD hanya 2,5 M, bandingkan katanya dengan Persib yang 15M. Saudara, pernyataan ini betul-betul tidak nyambung, dan salah konteks

Mengapa? Sebab yang betul adalah: Pendidikan penting, kesehatan penting, bikin jalan penting, dan Persib? juga penting.

Apa pentingnya dana bagi Persib?

Kolom saya yang terbatas jelas tidak akan cukup menampung penjelasan tentang urgensi mengapa Persib dan klub-klub harus disokong APBD. Tapi, saya coba saja walaupun terbatas:

Membangun bangsa, juga harus disertai membangun moral dan spirit. Orde baru gagal total karena basis pembangunan hanya bersandar pada fisik semata.

Kebudayaan, kesenian, dan olahraga tidak tersentuh dengan baik. Bahkan dipinggirkan. Padahal jangan lupa, ketahanan bangsa, bisa dibangun lewat olahraga. Jadi kalau ada penyimpangan tentang mekanisme bantuan, pelaporan yang sering dianggap tidak rinci, ya benerin saja, bukannya harus distop. Nyamuk satu, kok rumah yang dibakar, kelewatan sekali!

Pak Maruf dan anggota dewan pasti terkejut, kalau akibat Persib, Eka Ramdani lebih dipuja ketimbang David Beckham. Tidak percaya? Mangga jalan-jalan, dan tanya anak-anak SMP. Zainal Arief, dicintai disamping bintang film F-4 dari Taiwan itu. Banyak kamar anak muda memasang poster mereka. Sungguh sangat luar biasa, ketika banyak orang muda Indonesia berpaling ke barat, karena tidak menemukan pemimpin panutan di negerinya, di Bandung, sebagian dari mereka mulai mencintai anak bangsanya sendiri.

Sedikit lagi: Negara adidaya Amerika menggelontorkan uang milyaran dollar untuk amerikanisasi dunia lewat film dan kebudayaan serta NBA. Kita? 15M saja hebohnya minta ampun.

Sungguh, ada yang salah dengan cara berpikir kita. Ngaco banget, Sumpah!


Tidak ada komentar: