KORAN FESBUK's Fan Box

14 September 2008

M Yusuf, Yusuf Kalla, dan Yusuf Bachtiar.

Wednesday, April 18, 2007

Kamu sudah makan, prajurit..?”

Berapa gaji kamu.., sudah punya rumah..?”

Barangkali banyak pembaca yang sudah lupa dengan ungkapan yang sering diucapkan perwira tinggi asal Sulawesi Selatan ini (Kecuali Mang Ade dan para boboko –tentunya, hahaha)

Berasal dari keluarga ningrat Bone, Muhammad Yusuf, atau biasa namanya disingkat M Yusuf, adalah jenderal bersahaja yang selalu memperhatikan kepentingan prajuritnya.

Dia periksa satu per satu anak buahnya, dia tanya mengapa sepatu nggak disemir, juga kenapa kancing bajunya copot. Di saat lain, kukurusukan berjalan di bawah jemuran, lalu terampil memberi instruksi kepada para stafnya dengan meminta segera dibangun mess tentara diberbagai kota. Jenderal ini dirindukan banyak orang kepemimpinannya.

Untuk menghormati, antara lain di Kota Makasar, dibangunlah sebuah mesjid sangat besar; Al Markaz namanya, Mesjid Raya berarsitektur cantik, dan lapangan besar di halamannya, menjadikan banyak anak muda bermain skate board dan slalom mobil.

Berlowdeski, Marketing Manager Tabloid Bobotoh, yang dulu sempat bekerja di radio Madama Makassar,bahkan pernah bikin event di halaman mesjid ini.

Ah, Pak Yusuf memberikan banyak ruang untuk generasi baru rupanya.

***

Nama Yusuf lain yang sekarang berkibar adalah Yusuf Kalla. Setelah ayahnya sukses berbisnis mobil dengan nama NV Kalla, sang putera malah menggedor-gedor dengan kiprahnya sebagai Wapres. Lincah dan gesit. SBY malah seringkali harus meredam langkah wakilnya yang cenderung agresif ini. Ah, kita masuk ke persoalan politik dan tata Negara jadinya…rieut!

Kembali ke… lap top!!

Di Makassar sendiri, setelah Piala Yusuf absen beberapa kali, maka sekarang turnamen ini diputar kembali dengan nama baru; Piala Yusuf Kalla. Persib ambil bagian dalam kejuaraan ini.

***

Adalah seorang Yusuf Bachtiar, yang menyampaikan: “Kalau saya pelatih, Yusuf Cup akan saya jadikan sebagai alat pantau kekuatan, jadi juara bagus, kalau tidak, ya gak apa-apa, sebab, pertandingan yang sesungguhnya adalah Liga” Kang Yusuf menambahkan, bahwa kalau juara, malah kuatir mental pemain terlalu senang, sehingga di pertandingan yang sesungguhnya akan menganggap enteng lawan.

Betulkah ungkapan dia? Di tengah-tengah hiruk pikuknya bobotoh yang sedang haus gelar juara dan bersedih karena kalah lawan Timnas, statemen Yusuf seperti melawan arus.

Namun bobotoh, apa yang diucapkannya, adalah benar adanya. Ini sepakbola, diperlukan tidak hanya taktik, tapi juga strategi. Biarkan musuh tidak tahu kekuatan kita sampai laga yang sesungguhnya, di liga nanti.

Jadi, ya viveri veri coloso lah… eh, politik lagi (maaf, tempat baru untuk menampung yang beginian sudah ada: Suplemen Sandek, silakan sms ke situ :)

Tidak ada komentar: