Selalu benarkah media dan bolehkah media dimarahi? Media tidak selalu benar. Dan karenanya, media boleh dimarahi.
Peristiwa ngambek ini terjadi ketika satu-dua media menulis, goal pertama Persib ke PSS adalah hasil ‘pemberian’ wasit.
Padahal, Iurie yakin, seperti dalam tayang ulang liputan Anteve yang juga terlihat jelas, Barkoui ditebas pemain belakang PSS. Beruntung wasit berada di dekatnya dan melihat kejadian tersebut, sehingga memberi hukuman tendangan penalti untuk Persib.
Lalu kenapa ada media menulis berbeda? Barangkali, karena citra wasit yang ripuh di negeri ini, maka kecenderungan kita memvonis wasit berprilaku salah dalam pengambilan keputusan dan tidak netral, telah menjadi bahasa sehari-hari, padahal, kita juga tahu, wasit bukanlah malaikat yang bisa terbang secepat kilat ke sana kemari mengikuti gerakkan bola dan gerak lari 22 pemain. Oleh karena itu mereka dibantu dua hakim garis. Bahkan, karena masih beratnya tugas, saat ini, teknologi membantunya. Sorot kamera meringankan wasit dengan tayang ulang di layar besar yang ada di stadion. (Ingat tandukkan Zidane, yang hanya terlihat oleh pengambilan kamera televisi).
Di luar itu, mungkinn juga wartawan deg-degan melihat penampilan kurang memuaskan Persib pada babak pertama, mereka cemas, dan berharap goal balasan Persib tercipta bukan dari hasil penalti. Akibat gundah gulana sang wartawan itulah, tulisan yang seharusnya hanya fakta saja, malah kemudian dimasuki opini dan analisa dalam berita. Sehingga, Iurie kemudian meradang…
Tugas wartawan memang sulit, karena posisinya yang berada di pinggir lapang, acapkali sulit menuliskan secara akurat jalannya peristiwa yang sesungguhnya terjadi di dalam arena. Oleh karena itu, ketika terjadi peristiwa yang samar, maka diwajibkan kepada wartawan untuk mencari informasi tambahan dan nara sumber lain yang bisa melengkapi isi berita, sehingga gambaran peristiwa bisa terlihat lebih utuh, dengan demikian berita yang disajikan tidak menyesatkan. Untuk itu antara lain, mengapa jumpa pers setelah pertandingan dengan wakil pemain dan pelatih kepala menjadi sebuah kepentingan bersama. Untuk mendapatkan view yang utuh!
Lalu pelatih?
Tetaplah tegar. Lurus-lurus saja melatih Persib. Beri kami dan bobotoh kemenangan, lalu kami akan memproses dan menuliskannya. Kita semua tahu, Persib dituntut menjadi juara dan memberi kemenangan-kemenangan dalam pertandingannya, kita semua ikut bertanggung jawab dan berbagi tugas baik korps pelatih, pemain, pengurus, manajemen, media, maupun bobotoh.
Jadi, anggap saja, peristiwa kemarin sebagai bumbu penyedap cinta dan tanggung jawab. Konstruksi hubungan media dan Persib harus ditempatkan oleh Iurie sebagai potret saling interaksi. Bukankah mendingan kami yang menuliskannya ketimbang adanya koor “huuuuu” akibat Persib dikalahkan lawan dan mendapatkan prestasi yang buruk? Think fast mister, Persib harus jadi juara LDI 2007.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar