Hari Sabtu (13/09/2008) kemarin saya diberitahu Kang Abi -seorang sahabat yang saya kenal sebagai 'Bobotoh Jakarta', ada blog tentang Romeo and Juliet, katanya. Blog ini milik Kang Ucup, sutradara yang membuat film dengan judul Romeo and Juliet tadi, dan berlatar belakang perseteruan Viking dan The Jack.
Setelah saya membuka dan membaca-bacanya, tertegun juga saya. Karena di situ disebut Ketua Viking dan The Jack tidak mendukung pembuatan film tersebut. Tentu, ada alasan mengapa Kang Heru dan Mas Danang tidak menyetujuinya. Dan saya tidak kompeten untuk mengomentari, karena tidak mendapat informasi secara langsung dari keduanya. Memang, saya mendapat cerita dari sahabat saya yang saya sebut saja sebagai deep throat kira-kira sebulan setengah yang lalu tentang adanya rencana pembuatan film ini, dan mengapa Sang Ketua tidak setuju. Namun sekali lagi, karena tidak mendengarnya secara langsung tadi, ya sudah, mendingan saya tidak masuk ke soal itu.
Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, adalah, akhirnya, film itu dibuat juga, dan beberapa waktu kemudian ia akan beredar. Nah, bobotoh, lalu bagaimana saya melihat hal ini? Sekali lagi karena toh film ini telah dibuat, maka, saya ingin menyampaikan bahwa, saya apreciate terhadap Ucup yang memiliki keberanian untuk mengangkat tema sensitif ini.
Film -sebagai sebuah produk kebudayaan -dan unsur komersial yang membelitnya, saya yakin tetap akan berharga. Ia adalah produk yang harus dicerna juga antara lain dengan hati dan otak kanan. Jadi, bagaimana sikap kita nanti? Tentu saja, mari menontonnya dengan nikmat, tanpa harus merasa ketika film berakhir, salah satu dari Viking atau The Jack sebagai pemenang. Biarkan Ucup memotretnya. Dan mudah-mudahan saja film ini mampu menambah rasionalitas dan pencerahan kepada kita di tengah tekanan ekonomi, sengketa, dan kerap berpikir seakan kelompok mewakili semuanya.
Namun jikapun ternyata film ini tidak menyuguhkan apa yang kita inginkan, tenang saja. Masih banyak hari yang harus kita lalui. Pertandingan demi pertandingan akan terus disajikan... Dan -jangan lupa; Pak Nurdin Halid masih tetap saja Ketua Umum PSSI. Jadi, perlukah enersi itu kita tumpahkan semuanya ke situ? Sungguh tidak perlu sama sekali!
KORAN FESBUK's Fan Box
14 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar