KORAN FESBUK's Fan Box

14 September 2008

BOBOTOH MENEROBOS, SEBENARNYA MAMPUKAH PANPEL KITA?


Di tengah kerumunan orang yang menyemut di bibir jalan, dua mobil -yang salah satunya dikendarai Alex Asmasubrata, dipacu dengan kecepatan 150 km per jam di Jalan By Pass Soekarno Hatta,depan Polda Jabar. Pada saat yang sama, saya berdo’a dengan Almarhum Keith Robino –pengurus IMI Pusat, dan Project Officer yang saya tunjuk. sambil jantung ketar-ketir di ujung jalan, takut mobil peserta tiba-tiba oleng tidak terkendali dan menabrak penonton yang berdiri padat tanpa penghalang. Kami berdo’a agar hujan maha lebat terjadi, sehingga lomba bisa kami hentikan.

Itu adalah peristiwa sekitar 15 tahun lalu, saat radio yang saya pimpin menggelar event national drag race.

Sepulang dari venue, saya panggil PO, dan kita evaluasi, agar peristiwa serupa tidak terulang.

Kejadian kedua yang juga bikin ketar-ketir, adalah sebuah konser tunggal dari sebuah band Amerika, kelompok pengusung aliran reggae, Inner Circle, yang saat itu lagunya,

a la la la lalong, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia. Kami membuatnya di Eldorado Dome, jalan Setiabudi.

Pertunjukkan seharusnya dimulai jam 21.00. Namun, sampai pukul 23.00, Inner Circle keukeuh menolak tampil, karena drum machine yang mereka bawa, tertinggal di Cengkareng, Jakarta. Saya mencoba membujuk mereka untuk tetap tampil tanpa alat vital itu, karena kekeliruan tidak berada di pihak saya, melainkan akibat kecerobohan crew mereka sendiri dalam mengamankan peralatan, di tengah-tengah teriakkan penonton yang mulai tidak sabar menginginkan pertunjukkan segera dimulai karena malam makin larut. Berbekal pengalaman mengelola drag race, saya segera minta Denny dan Iszur untuk naik ke atas pentas mengocok perut pengunjung yang hadir, sehingga mereka bisa sedikit ditenangkan.

Dua peristiwa itu selalu saya ingat sampai sekarang, kesimpulannya adalah, saya dan team tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan segala aspek, sehingga keruwetan yang berkaitan dengan jalannya lomba dan pertunjukkan terjadi.


Tiga hari yang lalu, saya ditelefon Pak Anhar Sanusi, Viking BOBOKO, yang bercerita mengenai kurang profesionalnya Panpel Persib, sehingga bobotoh merangsek ke pinggir lapangan. Saya setuju dengan Pak Anhar. Seperti yang saya alami dalam event drag race di atas, maka kehebohan itu terjadi karena kita sebagai penyelenggara, tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengatasi lonjakkan penonton. Saya tidak boleh menyalahkan siapa pun. Karena kesalahan sepenuhnya berada di pundak saya atas kekeliruan saya menunjuk Project Officer, karena penyelenggaraan event itu memang hajat saya. Saya yang mengundang penonton datang, langsung atau tidak langsung.

Stadion Siliwangi yang kecil,dari dulu pun kita sudah tahu. Bobotoh yang selalu datang membludag ke stadion, sejak tahun kemarin, ketika prestasi Persib jelek, juga semua orang sudah tahu. Karcis kriting yang bolak-balik membuat orang masuk ke stadion, juga bocornya penonton yang leluasa masuk dengan harga Rp 3.000,- dan mengakibatkan penuh sesaknya stadion di luar batas kapasitasnya, semua orang juga sudah tahu.

Namun, peristiwa ini berulang terus, tanpa pembicaraan, diskusi serius, dan penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah itu.

Tudingan malah diberikan kepada stadion yang kecil, Anteve yang tidak menyiarkan, dan seribu alasan lainnya. Padahal titik pokoknya adalah, panpel, tidak bersungguh-sungguh menyiapkan perangkat untuk secara preventif menjaga penonton di dalam dan luar stadion, agar peristiwa Selangor tidak terulang.

Kita akan menghadapi hajat besar lagi menghadapi PSMS dan Persija. Disiarkan atau tidak oleh ANteve, bobotoh akan membludak datang ke Stadion Siliwangi. Adalah sebuah keharusan, jika Panpel, mulai hari ini, secara bersungguh-sungguh mulai membicarakan penanganan penonton dan mereka yang tidak bisa masuk ke stadion, bersama aparat keamanan, pimpinan-pimpinan kelompok bobotoh, dan berbagai unsur lainnya, sehingga nama Persib dan Bandung tidak tercemar oleh ketidakmampuan kita sebagai penyelenggara dalam mengelola pertandingan. Jangan sampai harus ada korban terlebih dahulu untuk mulai melakukan perbaikan. Selamat bekerja!


Tidak ada komentar: