KORAN FESBUK's Fan Box

14 November 2008

PARTAI SERIBU JANJI SURGA UNTUK SEJAHTERA

Tulisan Bang Akbar di dindingnya, menyergap saya:
"Sistem konstitusi Indonesia memang mengarah pada negara kesejahteraan. Seperti yang terdapat dalam Pasal 33 dan 34 UUD 45. Akan tetapi dalam 63 tahun kemerdekaan RI dan sepuluh tahun reformasi, negara kesejahteraan memang belum tercipta". Begitu Bang Akbar menulis.
Saya jadi tergelitik, dan menambahkan pada dinding facebook beliau itu; "Jadi, mengapa 'sang kesejahteraan' itu lama tercipta? Rakyatnya yang ogah sejahtera? Pasti tak mungkin. Atau...para pemimpin yang belum mampu mengarahkan biduk?"

Catatan kaki itu saya tulis, karena beliau adalah mantan pemimpin -dan pasti masih, karena banyak hadir pada lingkungan para pengambil keputusan di lingkaran satu.
Juga banyak iklan hari-hari ini mengenai upaya pengentasan kemiskinan, dan soal-soal yang lebih tahu tentang cara penyelesaiannya yang ditampilkan oleh -juga mantan para pemimpin.

Walah, dunia jadi kebalik-balik. Yang bertanya bukan masyarakatnya. Tetapi para pemimpinnya.
Untunglah ada Candi Sinaga, begini bunyi catatannya: " Kata orang nih kang Indra, janji kesejahteraan negara hampir seburuk janji masuk sorga...." Hahahahahaha.

Saya sebetulnya hampir lebih dari 80% yakin, ucapan itu bukanlah "kata orang", melainkan pikiran Candi sendiri, yang -tidak tahu sekarang di NZ, tapi di Jakarta, sepanjang yang saya tahu, gak ada cerita Candi bilang: "Gua pamit dulu, mau ke gereja!" Huehehehe.

Aahhh.. senangnya ketemu teman-teman lama. Teman-teman yang seru dan keren!
Buruan balik ke Indonesia, Can! Kalau Poltak sudah masuk Partai Kay Pang, kita bikin partai: PARTAI SERIBU JANJI SURGA UNTUK SEJAHTERA. Yuuuuuk? Eh..Poltak, anda mau bergabung juga?

Tks, untuk Bang Akbar Tanjung, Candi Sinaga, dan Poltak Hotradero, Daniel Tumiwa, Rochsan Rudiyanto, Jony Suharyono, Agus Amarullah

MENGAPA JK SELALU DICURIGAI?

Tulisan berikut adalah komentar saya atas tulisan Pepih Nugraha di Kompasiana tentang JK.

Dari sekian banyak politisi yang ada di Indonesia, menurut saya, maaf: JK adalah kampiunnya.
Dia sangat-sangat pintar membaca situasi, dan bukan alang kepalang gesitnya.
JK juga memiliki penguasaan materi yang hebat. Tidak hanya ekonomi (tentu saja karena dia saudagar) tetapi juga hampir semua masalah yang lain.

Bahkan ketika JK ‘menyerang’, maka yang dia lakukan bukan kepada individu, tetapi kepada masalah. Dengan cara ini, JK bisa langsung keluar dari perdebatan personal dengan lawan-lawannya.

Dia juga tahu diri. JK pasti tahu dan sudah mencoret-coretnya; bahwa pilihan masyarakat dalam mencoblos Golkar, tidak selalu sama contrengannya saat memilih presiden.
Artinya, Golkar bisa menang di pemilihan kursi DPR, tapi bisa loyo saat pilpres.
Karena itulah, jika JK tidak bernafsu (seperti kawan-kawannya separtai itu) dan hanya melandaskannya kepada oret-oretan ala saudagar itu, maka yang akan dilakukan dan dipilihnya adalah: Tetap menjadi Wapres untuk 2009.

Sekali lagi, bukan karena dia tidak cakap, melainkan karena Pemilu 2009 adalah pemilihan paket Capres dan Cawapres.
Dari berbagai pilihan yang ada nanti, ia akan ‘biarkan Golkar menggonggong, JK akan jalan sendiri’ Dengan sepenuh keyakinannya.

BRAVO POLITIKUS ONLINE!!

Saat ini marak para politisi beronline. Mereka membuka diri di internet, antara lain lewat Facebook, dll.
Apa manfaatnya untuk kita? Bisakah mereka lalu lebih mampu mendengar suara masyarakat yang disampaikan lewat blog atau facebooknya?
Bisakah mereka jadi lebih dekat dengan masyarakat?
Atau ini hanya menjadi ajang mengikuti trend sekaligus berpromosi diri saja?
Sebuah pertanyaan yang barangkali akan dijawab dengan anggukan.

FesBuker..
Salah satu problem para politisi kita adalah sulitnya mendapatkan informasi pembanding dari luar gedung Senayan, itu terjadi karena, antara lain jadual rapat yang sangat padat, dan pemanfaatan waktu reses yang tidak optimal.

Membuka situs; blog, plurk, facebook, dll, adalah sarana awal untuk bersiap mendapatkan sisi lain itu.
Keterbukaan akses ini, lambat laun akan mendekatkan mereka dengan suara-suara yang berbeda dari masyarakat yang diwakilinya. Dari situ kebijaksanaan yang lebih berwawasan multi pandangan akan tercapai. Tidak sempit -apalagi hanya memikirkan kelompok dan suara partainya semata.

Memang tidak ada sesuatu yang bisa selesai dalam satu hari. Semuanya membutuhkan proses.

Selamat datang di dunia online, dunia di mana kita bisa langsung 'broad' pikiran dan catatan ke seluruh alam maya, tetapi sebetulnya juga menjadi sangat individual. Sehingga rupa rupa pandangan akan semarak datang bertubi-tubi sampai pada halaman web, blog, dan sarana-sarana lain internet yang dimiliki para politikus ini!
Selamat 'menghandle' komentar-komentar itu dengan baik, politikusi!

Dan..., jika sang politikus bisa melakukannya, dia adalah masa depan kita itu.

Jadi.., bravo politikus online!

14 September 2008

Romeo and Juliet, dan Enersi itu.

Hari Sabtu (13/09/2008) kemarin saya diberitahu Kang Abi -seorang sahabat yang saya kenal sebagai 'Bobotoh Jakarta', ada blog tentang Romeo and Juliet, katanya. Blog ini milik Kang Ucup, sutradara yang membuat film dengan judul Romeo and Juliet tadi, dan berlatar belakang perseteruan Viking dan The Jack.
Setelah saya membuka dan membaca-bacanya, tertegun juga saya. Karena di situ disebut Ketua Viking dan The Jack tidak mendukung pembuatan film tersebut. Tentu, ada alasan mengapa Kang Heru dan Mas Danang tidak menyetujuinya. Dan saya tidak kompeten untuk mengomentari, karena tidak mendapat informasi secara langsung dari keduanya. Memang, saya mendapat cerita dari sahabat saya yang saya sebut saja sebagai deep throat kira-kira sebulan setengah yang lalu tentang adanya rencana pembuatan film ini, dan mengapa Sang Ketua tidak setuju. Namun sekali lagi, karena tidak mendengarnya secara langsung tadi, ya sudah, mendingan saya tidak masuk ke soal itu.
Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, adalah, akhirnya, film itu dibuat juga, dan beberapa waktu kemudian ia akan beredar. Nah, bobotoh, lalu bagaimana saya melihat hal ini? Sekali lagi karena toh film ini telah dibuat, maka, saya ingin menyampaikan bahwa, saya apreciate terhadap Ucup yang memiliki keberanian untuk mengangkat tema sensitif ini.
Film -sebagai sebuah produk kebudayaan -dan unsur komersial yang membelitnya, saya yakin tetap akan berharga. Ia adalah produk yang harus dicerna juga antara lain dengan hati dan otak kanan. Jadi, bagaimana sikap kita nanti? Tentu saja, mari menontonnya dengan nikmat, tanpa harus merasa ketika film berakhir, salah satu dari Viking atau The Jack sebagai pemenang. Biarkan Ucup memotretnya. Dan mudah-mudahan saja film ini mampu menambah rasionalitas dan pencerahan kepada kita di tengah tekanan ekonomi, sengketa, dan kerap berpikir seakan kelompok mewakili semuanya.
Namun jikapun ternyata film ini tidak menyuguhkan apa yang kita inginkan, tenang saja. Masih banyak hari yang harus kita lalui. Pertandingan demi pertandingan akan terus disajikan... Dan -jangan lupa; Pak Nurdin Halid masih tetap saja Ketua Umum PSSI. Jadi, perlukah enersi itu kita tumpahkan semuanya ke situ? Sungguh tidak perlu sama sekali!

Wilujeng Sumping!

Akhirnya, saya merilis tulisan-tulisan saya lewat blog -setelah sebelumnya lewat Tabloid Bobotoh. Tidak hanya Persib. Tapi segala macam peristiwa yang ingin saya tulis, saya tampilkan di sini. Terimakasih menyempatkan melihat dan membacanya.

Soal APBD: Mikir Jangan Ngaco!!



Suara sangat tidak merdu yang dinyanyikan Mendagri minggu lalu, benar-benar telah mengganggu harmonisasi irama yang dikumandangkan menyongsong bergulirnya Liga Indonesia XIII.

M. Machruf dan beberapa kalangan hanya melihat sisi negatif: Kucuran dana APBD untuk klub hanya menjadikan dana untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan anggaran pembangunan lainnya tidak optimal, karena sebagian dana dikuras untuk klub dengan prestasi yang menurutnya tidak pantas.

Nada minor lain yang disebutkan adalah, kucuran APBD itu hanya menjadi alat kendaraan politik agar bupati atau walikota terpilih lagi pada pemilihan berikut.

Inilah wajah negara yang baru keluar dari kandang keterkungkungan, pendulum kita cenderung bergerak ke arah ekstrem: Setiap langkah selalu saja dikait-kaitkan dengan politik. Juga ketika pendulum ada di sebaliknya: Ketika masih terkungkung, dengan bisik-bisik selalu saja ditiupkan rumours politik. Masalah yang sebenarnya sederhana, jadi melebar kesana-kemari.

Dana APBD bagi klub, sami mawon, jadi konsumsi politik juga. Sedemikian salah kaprahnya beberapa anggota DPRD berpikir; membandingan kucuran dana klub dibandingkan dengan anggaran pendidikan dan kesehatan. Lia Nurhambali dalam wawancara dengan Bandung TV mengatakan: Dana Tunjangan anggota DPRD hanya 2,5 M, bandingkan katanya dengan Persib yang 15M. Saudara, pernyataan ini betul-betul tidak nyambung, dan salah konteks

Mengapa? Sebab yang betul adalah: Pendidikan penting, kesehatan penting, bikin jalan penting, dan Persib? juga penting.

Apa pentingnya dana bagi Persib?

Kolom saya yang terbatas jelas tidak akan cukup menampung penjelasan tentang urgensi mengapa Persib dan klub-klub harus disokong APBD. Tapi, saya coba saja walaupun terbatas:

Membangun bangsa, juga harus disertai membangun moral dan spirit. Orde baru gagal total karena basis pembangunan hanya bersandar pada fisik semata.

Kebudayaan, kesenian, dan olahraga tidak tersentuh dengan baik. Bahkan dipinggirkan. Padahal jangan lupa, ketahanan bangsa, bisa dibangun lewat olahraga. Jadi kalau ada penyimpangan tentang mekanisme bantuan, pelaporan yang sering dianggap tidak rinci, ya benerin saja, bukannya harus distop. Nyamuk satu, kok rumah yang dibakar, kelewatan sekali!

Pak Maruf dan anggota dewan pasti terkejut, kalau akibat Persib, Eka Ramdani lebih dipuja ketimbang David Beckham. Tidak percaya? Mangga jalan-jalan, dan tanya anak-anak SMP. Zainal Arief, dicintai disamping bintang film F-4 dari Taiwan itu. Banyak kamar anak muda memasang poster mereka. Sungguh sangat luar biasa, ketika banyak orang muda Indonesia berpaling ke barat, karena tidak menemukan pemimpin panutan di negerinya, di Bandung, sebagian dari mereka mulai mencintai anak bangsanya sendiri.

Sedikit lagi: Negara adidaya Amerika menggelontorkan uang milyaran dollar untuk amerikanisasi dunia lewat film dan kebudayaan serta NBA. Kita? 15M saja hebohnya minta ampun.

Sungguh, ada yang salah dengan cara berpikir kita. Ngaco banget, Sumpah!


KAMI BERUBAH


Terimakasih kami sampaikan kepada anda, yang telah berkenan membantu kami lewat polling yang telah diselenggarakan dalam pengambilan keputusan untuk mempercepat penggantian jenis kertas Tabloid Bobotoh dari HSSD menjadi NPSD (News Paper Standard). Sehingga mulai edisi ke-17 ini , anda akan memperoleh Tabloid Bobotoh dengan menggunakan kertas standard surat kabar, dan bukan lagi kertas putih.


Sidang pembaca yth, semenjak awal, sebenarnya kami sangat ingin untuk langsung menggunakan kertas koran sebagai medium tabloid ini, karena format TB yang padat tulisan akan menjadi tidak nyaman jika dicetak pada kertas putih. Akan melelahkan mata.

Juga, karena sources bahan pembuatannya yang makin terbatas, jenis kertas putih pada masa yang akan datang harganya akan jauh melampaui harga kertas koran. Sebagai bandingan, koran-koran dan tabloid besar baik di dalam dan di luar negeri sangat menjauhi jenis kertas putih, karena pertimbangan di atas. Itulah mengapa, kemudian mereka mampu memberikan jumlah halaman yang tebal kepada pembacanya, karena biaya produksi bisa ditekan. Itu juga keinginan kami untuk dapat terus memanjakan bobotoh sekalian ke depan, bagaimana TB bisa hadir lekas, lengkap, dan tuntas.

Mengapa kertas HSSD kami pilih? HSSD adalah jenis “tengah-tengah” antara kertas putih dan kertas koran. Kertas yang kami pilih sebagai kompromi antara pasar dan positioning kami.

Dalam perjalanannya, banyak masukkan kepada kami dari pembaca agar TB menggunakan kertas putih disertai catatan tidaklah mengapa harga TB naik, namun kami belum bisa memenuhi tuntutan itu. Karena target kami adalah, bagaimana TB bisa dibaca oleh sebanyak-banyaknya masyarakat Jawa Barat. Pembaca harus bisa mendapatkan TB dengan harga terjangkau.

Untuk itulah, setelah 15 edisi, kami mencoba mengukur seberapa besar resistensi kepada TB apabila merubah kertas, maka kami mencoba melakukan polling. Hasilnya, ternyata dari 321 peserta yang mengirim masukan, 289 menyatakan setuju kertas berubah, dan sisanya (32) tidak. 100 orang pengirim sms pertama, kami muat pada kolom sebelah untuk mendapatkan hadiah subsidi tiket. Tentu hadiah yang sangat tidak berarti dibanding peran serta anda menuntun kami dalam membuat keputusan.

Kemudian, karena pembaca mayoritas menyetujui perubahan, maka dengan serta merta pula kami langsung mempercepat perubahan kertas, mulai edisi ini. Kami tampil full color, dan 2 minggu sekali kami berikan bonus poster dengan bahan art paper, agar anda bisa memajangnya dalam waktu yang lama.


Ini dia, Provinsi Surplus Stadion!!


Membaca koran Pikiran Rakyat minggu lalu, saya memperoleh sesuatu yang bikin tersenyum dan rada keuheul. Kesimpulan beritanya adalah, pernyataan akan direnovasinya Stadion Siliwangi agar kapasitas penontonnya bisa ditingkatkan,. lalu statement Walikota Bandung Pak Dada Rosada yang akan menyegerakan membuat stadion di Gedebage, dan terakhir, ternyata Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berencana akan membuat stadion di Padalarang.

Yang membuat saya tersenyum adalah, ya.. , itu.. , soal tiga stadion itu. Di tengah-tengah ripuhna pengen nonton Persib di Siliwangi -yang pasti kalau go show hanya akan mendapat tiket di calo dengan harga dua kali lipat, eh ini mah nggak tanggung-tanggung, para pejabat semuanya pada sibuk mau bikin stadion besar sendiri-sendiri, sampai kalau jadi dan dijumlah, diseputar Bandung Raya akan ada empat stadion sekaligus : Siliwangi, Gedebage, Padalarang, dan Si Jalak Harupat di Soreang.

Sumpah, saya kehabisan ide untuk menjelaskan kepada isteri saya –Ika, yang bertanya, kenapa mereka nggak duduk sama-sama satu meja, lalu merundingkan agar sesegera mungkin ke tiga pihak yang sangat kompeten itu membuat stadion besar baru satu saja dengan biaya bersama. Kalau hal itu dilakukan, rasanya sang stadion impian itu akan cepat terealisasi dan biaya pun jadi ringan karena ditanggung beberapa pihak.

Kenapa mereka tidak melakukannya? Awas! Jangan berpikir yang tidak-tidak, bahwa dengan begitu pejabat bisa korupsi dari pembangunan stadion! Tapi berpikir lurus saja: Ini akibat masalah laten: Kurang koordinasi, atau masing-masing memang tidak pernah saling ngobrol soal stadion, yang selalu diangkat koran, tv lokal, radio, dan tabloid ini di setiap ada kesempatan.

Menurut saya, barangkali akan ideal, jika kesulitan Pemkot Bandung dalam upayanya untuk membangun stadion bagi kandang Persib lebih didahulukan, dengan dukungan dan kerjasama berbagai pihak. Sebab jika hal ini tidak segera dilaksanakan, maka jumlah penonton dan kapasitas Stadion Siliwangi yang sudah sangat tidak memadai itu akan dapat menuai cerita yang mengerikan: Kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat penonton yang berdesakkan bisa terjadi. Ingat Tragedi Heysel!! Ingat juga peristiwa tawuran di Itali akibat keamanan stadion yang kurang memadai. Iiihh! Jadi ngeri kalau melngingat hal itu. Amit amit, jangan sampai terjadi di sini.

Jika koordinasi dilakukan, juga tentunya Stadion untuk Persib tidak akan terjadi seperti cerita Si Jalak Harupat yang bangunannya gagah perkasa itu, tapi jalan akses masuk dan keluarnya sungguh sangat memprihatinkan.

Punten pisan saya menulis ini, da sumpah, saya bingung ngabandunganana. Asa rudet mikiran stadionn yang gak jadi-jadi karena memang biayanya super gede itu. Barangkali ada pejabat yang bisa menjelaskan? Atau kita ganti saja nama provinsi Jawa Barat yang asalnya kekurangan stadion ini jadi Provinsi Surplus Stadion?

Ayoo, BOBOTOH for PERSIB!


Asyiiiik, kita menang! Sebuah hasil yang sangat nikmat, karena selain pemain telah mempertontonkan permainan yang luar biasa, juga kemenangan ini harus kita syukuri, karena Persik Kediri adalah juara liga tahun lalu. Kemenangan ini, seperti dikatakan Kang Yosi, menjadi jalan pembuka lebar bagi Persib untuk mengarungi ganasnya ajang kompetisi Liga Djarum Indonesia 2007.


Selanjutnya, di luar sorotan hasil pertandingan kemarin, seperti banyak ditulis media, Persib adalah memang sebuah team yang besar.

Apa ukuran sebuah team dikatakan besar? Tentu karena banyaknya prestasi yang telah diukir Persib selama ini. Dengan kata lain, mustahil sebuah team dikatakan besar atau elite, jika prestasi nya nol.

Berbicara prestasi, bagi sebuah team sepakbola pasti didapat oleh kerjasama dan keterpaduan pengurus, manajemen, dan pemain itu sendiri. Kerjasama dan kerja keras unsur-unsur itulah, kemudian menghasilkan prestasi. Persib kemudian bisa dikatakan sebagai team bernama besar, karena memang beragam prestasi telah diperoleh, sehingga menjadi tidak hanya sekedar kesebelasan kesayangan masyarakat Bandung, bahkan telah menjadi ikon dan jajaten Jawa Barat.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita menghargai mereka yang telah memberi nama harum itu?

Kita mendengar pengurus dan manajemen bekerja tanpa honor. Bahkan Pak Wowo Sunaryo, yang berjuluk Macan Asia, dan kini terbaring sakit di RS Immanuel akibat maag akut, ginjal, dan stroke ringan, dengan sangat terpaksa oleh pihak keluarga akan dibawa pulang karena tidak sanggup dibiayai perawatan sakitnya.

Beruntung ada H. Chandra Solehan yang akan menggalang dana untuk meringankan beban keluarga Pak Wowo, sehingga perawatannya bisa dilanjutkan di Imannuel.

Sebuah langkah mulia, tapi kemudian membuat kita merenung; Berapa banyak lagi Wowo-Wowo lainnya yang juga mengalami nasib yang sama? Dan kemudian mengalami kesulitan ekonomi karena sudah terpental dari putaran zaman?

Bobotoh, kita harus bertindak. Persib memerlukan dukungan dana, sebutlah semacam Dana Abadi, yang bunganya bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Tabloid Bobotoh, setelah menggulirkan program Udunan untuk Stadion, yang kemarin distop sementara, karena kondisi yang ada menggulirkan kembali udunan ini. Bekerja sama dengan Bank Saudara, mulai minggu ini kita menggulirkan program dengan nama: Bobotoh for Persib. Beberapa penyumbang yang sudah masuk kami tampilkan mulai edisi ini. Harapan kami, seberapapun seumbangan yang diberikan nantinya, akan menginspirasi semua pihak –perorangan, perusahaan, bahkan media secara bersama, untuk mulai melancarkan dukungan finansial untuk Dana Abadi bagi Persib. Ayo kita mulai, semoga Allah bersama kita. Bismillah..

BOBOTOH MENEROBOS, SEBENARNYA MAMPUKAH PANPEL KITA?


Di tengah kerumunan orang yang menyemut di bibir jalan, dua mobil -yang salah satunya dikendarai Alex Asmasubrata, dipacu dengan kecepatan 150 km per jam di Jalan By Pass Soekarno Hatta,depan Polda Jabar. Pada saat yang sama, saya berdo’a dengan Almarhum Keith Robino –pengurus IMI Pusat, dan Project Officer yang saya tunjuk. sambil jantung ketar-ketir di ujung jalan, takut mobil peserta tiba-tiba oleng tidak terkendali dan menabrak penonton yang berdiri padat tanpa penghalang. Kami berdo’a agar hujan maha lebat terjadi, sehingga lomba bisa kami hentikan.

Itu adalah peristiwa sekitar 15 tahun lalu, saat radio yang saya pimpin menggelar event national drag race.

Sepulang dari venue, saya panggil PO, dan kita evaluasi, agar peristiwa serupa tidak terulang.

Kejadian kedua yang juga bikin ketar-ketir, adalah sebuah konser tunggal dari sebuah band Amerika, kelompok pengusung aliran reggae, Inner Circle, yang saat itu lagunya,

a la la la lalong, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia. Kami membuatnya di Eldorado Dome, jalan Setiabudi.

Pertunjukkan seharusnya dimulai jam 21.00. Namun, sampai pukul 23.00, Inner Circle keukeuh menolak tampil, karena drum machine yang mereka bawa, tertinggal di Cengkareng, Jakarta. Saya mencoba membujuk mereka untuk tetap tampil tanpa alat vital itu, karena kekeliruan tidak berada di pihak saya, melainkan akibat kecerobohan crew mereka sendiri dalam mengamankan peralatan, di tengah-tengah teriakkan penonton yang mulai tidak sabar menginginkan pertunjukkan segera dimulai karena malam makin larut. Berbekal pengalaman mengelola drag race, saya segera minta Denny dan Iszur untuk naik ke atas pentas mengocok perut pengunjung yang hadir, sehingga mereka bisa sedikit ditenangkan.

Dua peristiwa itu selalu saya ingat sampai sekarang, kesimpulannya adalah, saya dan team tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan segala aspek, sehingga keruwetan yang berkaitan dengan jalannya lomba dan pertunjukkan terjadi.


Tiga hari yang lalu, saya ditelefon Pak Anhar Sanusi, Viking BOBOKO, yang bercerita mengenai kurang profesionalnya Panpel Persib, sehingga bobotoh merangsek ke pinggir lapangan. Saya setuju dengan Pak Anhar. Seperti yang saya alami dalam event drag race di atas, maka kehebohan itu terjadi karena kita sebagai penyelenggara, tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengatasi lonjakkan penonton. Saya tidak boleh menyalahkan siapa pun. Karena kesalahan sepenuhnya berada di pundak saya atas kekeliruan saya menunjuk Project Officer, karena penyelenggaraan event itu memang hajat saya. Saya yang mengundang penonton datang, langsung atau tidak langsung.

Stadion Siliwangi yang kecil,dari dulu pun kita sudah tahu. Bobotoh yang selalu datang membludag ke stadion, sejak tahun kemarin, ketika prestasi Persib jelek, juga semua orang sudah tahu. Karcis kriting yang bolak-balik membuat orang masuk ke stadion, juga bocornya penonton yang leluasa masuk dengan harga Rp 3.000,- dan mengakibatkan penuh sesaknya stadion di luar batas kapasitasnya, semua orang juga sudah tahu.

Namun, peristiwa ini berulang terus, tanpa pembicaraan, diskusi serius, dan penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah itu.

Tudingan malah diberikan kepada stadion yang kecil, Anteve yang tidak menyiarkan, dan seribu alasan lainnya. Padahal titik pokoknya adalah, panpel, tidak bersungguh-sungguh menyiapkan perangkat untuk secara preventif menjaga penonton di dalam dan luar stadion, agar peristiwa Selangor tidak terulang.

Kita akan menghadapi hajat besar lagi menghadapi PSMS dan Persija. Disiarkan atau tidak oleh ANteve, bobotoh akan membludak datang ke Stadion Siliwangi. Adalah sebuah keharusan, jika Panpel, mulai hari ini, secara bersungguh-sungguh mulai membicarakan penanganan penonton dan mereka yang tidak bisa masuk ke stadion, bersama aparat keamanan, pimpinan-pimpinan kelompok bobotoh, dan berbagai unsur lainnya, sehingga nama Persib dan Bandung tidak tercemar oleh ketidakmampuan kita sebagai penyelenggara dalam mengelola pertandingan. Jangan sampai harus ada korban terlebih dahulu untuk mulai melakukan perbaikan. Selamat bekerja!


Iurie.. Iurie.. Iurie…! Think fast, mister!


Selalu benarkah media dan bolehkah media dimarahi? Media tidak selalu benar. Dan karenanya, media boleh dimarahi.

Peristiwa ngambek ini terjadi ketika satu-dua media menulis, goal pertama Persib ke PSS adalah hasil ‘pemberian’ wasit.

Padahal, Iurie yakin, seperti dalam tayang ulang liputan Anteve yang juga terlihat jelas, Barkoui ditebas pemain belakang PSS. Beruntung wasit berada di dekatnya dan melihat kejadian tersebut, sehingga memberi hukuman tendangan penalti untuk Persib.

Lalu kenapa ada media menulis berbeda? Barangkali, karena citra wasit yang ripuh di negeri ini, maka kecenderungan kita memvonis wasit berprilaku salah dalam pengambilan keputusan dan tidak netral, telah menjadi bahasa sehari-hari, padahal, kita juga tahu, wasit bukanlah malaikat yang bisa terbang secepat kilat ke sana kemari mengikuti gerakkan bola dan gerak lari 22 pemain. Oleh karena itu mereka dibantu dua hakim garis. Bahkan, karena masih beratnya tugas, saat ini, teknologi membantunya. Sorot kamera meringankan wasit dengan tayang ulang di layar besar yang ada di stadion. (Ingat tandukkan Zidane, yang hanya terlihat oleh pengambilan kamera televisi).

Di luar itu, mungkinn juga wartawan deg-degan melihat penampilan kurang memuaskan Persib pada babak pertama, mereka cemas, dan berharap goal balasan Persib tercipta bukan dari hasil penalti. Akibat gundah gulana sang wartawan itulah, tulisan yang seharusnya hanya fakta saja, malah kemudian dimasuki opini dan analisa dalam berita. Sehingga, Iurie kemudian meradang…


Tugas wartawan memang sulit, karena posisinya yang berada di pinggir lapang, acapkali sulit menuliskan secara akurat jalannya peristiwa yang sesungguhnya terjadi di dalam arena. Oleh karena itu, ketika terjadi peristiwa yang samar, maka diwajibkan kepada wartawan untuk mencari informasi tambahan dan nara sumber lain yang bisa melengkapi isi berita, sehingga gambaran peristiwa bisa terlihat lebih utuh, dengan demikian berita yang disajikan tidak menyesatkan. Untuk itu antara lain, mengapa jumpa pers setelah pertandingan dengan wakil pemain dan pelatih kepala menjadi sebuah kepentingan bersama. Untuk mendapatkan view yang utuh!

Lalu pelatih?

Tetaplah tegar. Lurus-lurus saja melatih Persib. Beri kami dan bobotoh kemenangan, lalu kami akan memproses dan menuliskannya. Kita semua tahu, Persib dituntut menjadi juara dan memberi kemenangan-kemenangan dalam pertandingannya, kita semua ikut bertanggung jawab dan berbagi tugas baik korps pelatih, pemain, pengurus, manajemen, media, maupun bobotoh.

Jadi, anggap saja, peristiwa kemarin sebagai bumbu penyedap cinta dan tanggung jawab. Konstruksi hubungan media dan Persib harus ditempatkan oleh Iurie sebagai potret saling interaksi. Bukankah mendingan kami yang menuliskannya ketimbang adanya koor “huuuuu” akibat Persib dikalahkan lawan dan mendapatkan prestasi yang buruk? Think fast mister, Persib harus jadi juara LDI 2007.

Thx, Full Color, dan MTV


Dukungan terhadap Tabloid Bobotoh, dari bobotoh, sangat membahagiakan. Tabloid habis dalam hitungan hari. Ini luar biasa dan membuat kami terharu. Sebagai penggiat media yang telah menggeluti beberapa tahun di Bandung, kami pernah merasakan pahit getirnya menerbitkan media di kota kita tercinta; di tengah kompetisi yang sangat ketat serbuan media Jakarta. Terimakasih kami ucapkan untuk bobotoh semua. Sekali lagi, thx! hatur nuhun!


Bulan lalu, ketika saya didorong-dorong harus menerbitkan tabloid ini, dan mulai secara aktif ngabandungan Persib, saya baru sadar, jaman sudah berubah. Sebagai pecinta produk lokal, kosakata saya tentang pemain asing banyak yang kurang. Tahu teh cuma Adeng Hudaya, Ajat Sudrajat, Sobur, Roby Darwis, Dede Iskandar. Pemain asing, saya agak klenger, tidak mengerti. Namun, sekarang, sekurang-kurangnya ada dua pemain, dan satu pelatih yang saya tahu, Barkaoui, Kosin, serta Arcan Iurie. Semuanya saya baca di Pikiran Rakyat dan SMS bobotoh, saat saya lagi lieur baca politik tentang anggota DPR yang jalan-jalan ke luar negeri, dan lumpur panas yang tak selesai-selesai ditangani.

Pemain asing ternyata sekarang sudah jadi bagian dari Persib. Pemain asing yang skillnya bagus –apalagi kasep dan entertaining, mendatangkan banyak penonton. Sekarang bahkan banyak wanita datang ke stadion. Segmen bobotoh naik kelas, dari si tukang ngaruksak lamun eleh, menjadi flamboyan dan wangi. Barangkali, dukungan ini membuat DPRD oke mengeluarkan dana belasan milyar dari APBD. Persib sudah dikategorikan lokomotif penggerak ekonomi dan… politik.


Jadi ceritanya mah, saya ketinggalan jaman weh. Itu pula yang melatarbelakangi kekolotan pemikiran saya: Kenapa harus colorful untuk halaman-halaman Tabloid Bobotoh? Black and white saja, yang penting isi tulisannya harus berbobot, edukatif, dan seimbang. Dengan tumpuan cetak pada warna hitam putih, maka biaya produksi koran bisa ditekan, dengan demikian harga jual juga bisa rendah, sehingga banyak orang mau baca koran karena harganya terjangkau. Jadi yang cerdas, santun, dan berbudaya tambah banyak.

Yah, namanya saya Pemimpin Umum, anak-anak setuju walau mungkin menggerutu. Eehhh, ternyata setelah terbit, komentar pembaca: “ Tabloid Bobotoh tuh bagus, ngaaann… hanjakal kertasnya rumeuk,ipis, dan poek (maksudnya kurang tata warna, mungkin -red) gak bonafid ah! Warnanya perbanyak dong, gak apa-apa harganya naik!”.


Waaahh, lagi-lagi saya ketinggalan. Jaman sudah berubah. Sekarang memang jaman MTV. Jadi, saya mengalah (lagi) setelah pemain asing, mulai edisi ini, untuk lebih memuaskan pembaca, kami rubah dulu warnanya, 24 halaman, semuanya full color! Harga masih tetap. Nah.. mudah-mudahan makin enak dilihat. Selamat membaca!


Trade Center Perlu Dibangun (Juga Stadion)


Minggu lalu saya kedatangan tamu istimewa; duo Yana Ewok dan Bool di ruangan saya di kantor redaksi.

Saat obrolan sampai pada masalah stadion, mereka bilang, tiket yang diputar, pemilik tiket tidak dapat tempat duduk, dan calo yang merajalela, akan terus terjadi di Liga 2007.

Bukan karena kinerja panpelnya yang lemah, tapi masalah besarnya adalah rumus supply dan demand. Bobotoh fanatik yang ingin menyaksikan Pangeran Biru berlaga, jumlahnya jauh lebih banyak dibanding kapasitas stadion sendiri. Akibatnya terjadilah kondisi yang memang tidak akan mampu ditanggulangi panpel mana pun.

Jalan keluarnya, menurut duo viking itu adalah pembangunan stadion baru dengan kapasitas lebih besar menjadi keharusan yang mendesak.


Hari-hari ini kita memang menyaksikan gairah pembangunan yang luar biasa di Bandung, jalan bolong ditambal dan dilebarkan, sungai dikeruk, trade center dan mall dibangun. Tentu sangat bagus, karena sebuah pusat perbelanjaan dapat menampung ratusan pegawai. Pengangguran bisa ditekan dengan efektif.

Namun sejalan dengan itu, pembangunan arena olaharaga yang representatif juga sangat mendesak. Proposal bisa mulai coba ditawarkan pada investor dalam dan luar negeri, jika perlu termasuk hak pengelolaan stadion dalam pelaksanaan pertandingan untuk sekian tahun agar mereka bersedia membiayai sendiri dan agar kita tidak merogoh kantong APBD dan tidak mencekiknya.


Untuk biaya perawatan berikutnya, sebuah arena yang didesain dengan berbagai aktivitas penunjang seperti mess pemain, perkantoran yang disewakan, rumah makan, café, FO, bahkan tempat seminar, dapat menjadi penunjang.

DPRD dan eksekutif harus mulai membicarakan hal ini secara serius, sebab jika tidak, kita akan mendengar teriakan ketidakpuasan dari calon penonton yang jumlahnya puluhan ribu itu, dan lebih jauh lagi, akhirnya pada suatu titik, kita akan melihat mereka yang kecewa tersebut tidak datang lagi ke stadion, atau… jangan sampai terjadi: kita akan menuai badai anarkisitis.

Udunan Bobotoh untuk Stadion


Ketua Viking Heru Djoko, Biro Hukum Persib- Rudi Pakih SH, dan host Balad Persib Bandung TV yang juga sehari-hari menjabat salah satu direktur PT. Innovator 1ndonesia -penerbit Tabloid Bobotoh, Hyoga Pratama, Selasa, 12 Desember 2006 membuat sejarah. Mereka bersepakat untuk memotori sebuah gerakan yang saya sebut saja: Udunan Bobotoh untuk Stadion.

Jelas, ini gerakan pertama di dunia, yang masyarakatnya turut berpartisipasi mengumpulkan dana untuk membangun stadion bagi team kesayangannya.


Naif? Tentu tidak. Walau dana yang terkumpul tak seberapa dibanding nilai proyek sebuah stadion besar dengan nilai ratusan milyar yang kita inginkan, namun gerakan udunan dari bobotoh mudah-mudahan menginspirasi dan memotivasi para pengambil keputusan untuk mempercepat realisasi pembangunan stadion bagi Persib. Juga sebagai wujud kecintaan kita sebagai bobotoh bagi Persib yang sudah berusia 73 tahun belum memiliki kandang yang representatif. Wujudnya, boleh jadi nanti hanya terkumpul uang untuk membeli sejumput rumput di pojok stadion. Tapi, sekali lagi, semuanya adalah perwujudan rasa cinta yang paling mendalam dari kita sebagai bobotoh.


Di Tabloid Bobotoh, saya telah meminta anggota Dewan Redaksi, Kang Adi Raksanagara, (0813.2157.6346) untuk bertindak sebagai Project Officer, yang kemudian akan mengkoordinasikannya setiap saat kepada Kang Hyoga.

PT. Innovator 1ndonesia sendiri, memotong Rp 50,- dari setiap eksemplar penjualan tabloid Bobotoh mulai edisi-9 sampai dengan masa kompetisi liga XIII th 2007 berakhir. Artinya, anda pembaca, ketika membeli Tabloid Bobotoh, secara langsung menyumbang Rp 50,- setiap kali membeli tabloid ini.

Jika ingin lebih, kami telah membuka rekening khusus untuk udunan di Bank Saudara pada kolom “Kepada”, tulis saja : BOBOTOH, nomor rekeningnya: 120.33.66996. Nah, jika anda berkenan, mohon cantumkan juga tulisan berupa “Udunan Bobotoh untuk Stadion” pada kolom “berita” agar kami bisa menuliskannya dalam laporan yang akan kami muat pada setiap edisi Tabloid Bobotoh.

Ingin langsung datang ke Redaksi? Pintu terbuka lebar : Jl. Mohammad Ramdan No. 57 Bandung, rumah berwarna biru dengan logo PERSIB besar di salah satu ruangannya akan menanti kunjungan anda. Wilujeng sumping, dalam gerakan Udunan Bobotoh untuk Stadion, Bismillah!


Matematika 4-4-2


Ada bilangan yang lagi ngetop minggu ini: 4-4-2!

Formasi ini sedang hot, bukan karena menjadi nomor toto tiga angka yang keluar minggu ini, tapi karena Kang Iurie mencoba menerapkannya sebagai sebuah taktik laga yang baru dari team Pangeran Biru, setelah bertahun-tahun mengamalkan pola 3-5-2.

Sebagian besar kalangan mengatakan bahwa pola 4-4-2 akan membuat para pemain bergerak lebih dinamis, dan pembagian kerja antar pemain lebih merata. Namun berbeda dengan 3-5-2, yang lebih menekankan penjagaan orang, maka 4-4-2 lebih menitik beratkan kepada penjagaan wilayah.

Pemain bekerja di wilayah diamond, atau ketupat, sehingga area laga nya menjadi lebih luas. Tidak sempit dan lurus naik turun. Tapi tentu, pemain akan harus lebih pintar membaca wilayah jaga, dan…lebih berkeringat!

Dalam konteks ini kita melihat, ada semangat positif yang dibawa Iurie bagi Persib; Menambah kepemilikan langkah untuk dimainkan sebagai penurunan strategi berupa taktik dalam menghadapi lawan. Pola memang menjadi bagian strategi yang vital. Gaya dan pola permainan yang terlalu mudah dibaca, akan membuat musuh lebih gampang mengantisipasi dan menghancurkan kita.

Sun Tzu ahli strategi perang China, mengemukakan: Semakin lawan tidak mengetahui strategi dan taktik kita, maka sebagian kemenangan sudah diperoleh. Sebaliknya, semakin kita memiliki informasi strategi dan taktik lawan, maka sebagian kemenangan juga sudah diperoleh.

Karena itu yang harus dipahami adalah, team harus mempunyai beberapa ketrampilan dalam mengembangkan formasi. Tidak boleh hanya satu style. Kita mesti punya beberapa, termasuk pola bertahan ala grendel Itali sekali pun, ekstrimnya harus kita pelajari.

Masalahnya, memang tidak sederhana, dibutuhkan kecakapan analisis pelatih, kapten di lapangan, dan para pemain yang memiliki intelektual, skill, dan daya tahan fisik tinggi dalam mengahadapi kompetisi berbulan-bulan.

Punyakah skuad Persib dengan kapasitas ini? Secara jujur harus dikatakan; belum.

Rasanya untuk sampai ke tingkat itu memang memerlukan kerja keras yang panjang, serta pemakluman yang mendalam dari kita untuk tidak terlalu mahir mengritik, tapi pandai dalam mendukung dan mengapresiasi sekecil apa pun langkah Persib untuk selalu memperbaiki diri.

Jadi, langkah Iurie untuk mengajari pola 4-4-2, harus kita apresiasi.

Hayu, laga memang masih belum dimulai, tetapi kerja keras kita semua harus dimulai dari sekarang. Sebab kalau tidak, kita akan menerima kesedihan tak berkesudahan.

Bravo Pangeran Biru!

Silent pleaseee..., cooling down!!


Buuuumm..!! Ada bom meledak di Bandung minggu lalu.

Kota kita yang sejuk, membara oleh bom berita media tentang pengumuman nilai kontrak pemain yang diajukan Persib ke DPRD.

Tentu tidaklah penting dari mana berita tentang angka itu datang, namun, kita bisa menebak-nebak dari mana asalnya. Kita juga khusnuzon saja, itu prakarsa yang baik, tidak ada kepentingan politik. Sebab ini olah raga. Sportivitas adalah yang utama.

Yang jadi pertanyaan, tepat momen kah pengumuman itu dilakukan? Sebagian orang menyatakan tepat karena memang sudah tiba waktunya, sekarang era profesional, juga karena telah dilakukan pembahasan di Dewan. Sebagian lagi mengatakan tidak.

Saya? Saya termasuk yang tidak setuju dibuka dengan cara seperti itu.

Cara? Kang Indra, sekarang zaman keterbukaan, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi..”

Lah, yang bilang harus ditutupi siapa?

Sebagai bagian dari masyarakat, tentu saya setuju angka itu dibuka, ini memang sqalah satu upaya soal bagaimana meningkatkan prestasi dan profesionalisme. Namun, sekali lagi, benarkah caranya harus seperti itu?

Keterbukaan harus diimbangi dengan tata cara dan mekanisme yang teratur. Sebab jika tidak, seperti yang kita lihat pada bangsa ini, ketertutupan yang sontak dibuka dengan serta merta menimbulkan kegamangan yang dahsyat. Tatanan hancur dan sama sekali tidak ada yang diuntungkan.

Adalah sangat ideal jika pengurus Persib dan manajemen diberi kesempatan awal menjelaskannya pada para pemain terlebih dahulu, sehingga kekeluargaan dan spirit team dapat dijaga. Ini soal beberapa individu yang harus padu menjadi sebelas orang lebih dan saling bela menjaga nama Bandung.

Setelah itu, baru disampaikan kepada masyarakat luas. Bade ngangge media, mangga. Nyebar selebaran pake kapal udara silakan. Kalau perlu, tambah billboard 20 x 30 meter sekalian. Agar masyarakat tahu; serta tulis besar-besar: Jika kita bersungguh-sungguh menggeluti sebuah bidang, termasuk olah raga, maka akan ada harga yang pantas untuk itu. Jangan mau kaya dengan cara instant! Jadi mudah-mudahan akan menginspirasi generasi muda untuk berprilaku sehat agar bisa menjadi pemain bola hebat.

Bercermin dari itu, harapan saya, siapa pun pihak yang memiliki posisi vital pada masyarakat harus menjaga irama ini agar tidak berantakan.

Nah, karena itu, agar peristiwa itu tidak semakin destruktif, seperti kata Tukul Arawana: Silent pleaseeee..., cooling down.! (Kadang dia memelesetkannya dengan : silent pleaseee... rolling door ..) Kembali ke... lap top: Sebab persiapan Persib memang harus maksimal. Ada ribuan bobotoh yang tengah berharap banyak kepada Persib. Redaksi menerima sms dan telefon bertubi-tubi yang berisi dukungan terhadap Persib, agar mereka tetap bernyali maung. Mereka mencintai Persib! Lebih dari kepada siapa pun serta partai mana pun. Dan, percayalah, itu akan membuat Bandung sejuk, terus mencipta kreasi anyar, dan bikin semua orang yang ada di sini betah, karena dihuni masyarakat yang bermartabat.

Soal Stadion itu (Lagi) dan Nonton Bareng Persib

40.000 orang bobotoh berdesakkan di stadion Siliwangi yang berkapasitas hanya 18.000, pada Rabu sore kemarin. Aparat kepolisian riweuh mengendalikan penonton yang mengalir dari seluruh antero Jawa Barat. Setelah masuk ke stadion, sebagian dari mereka malah memaksa duduk sampai di bibir lapang.

Kang Dada yang ditemui –pas, seusai pertandingan, garuk-garuk kepala, kapasitas stadion Siliwangi sudah tidak cukup lagi, paparnya. Dan seperti dimuat Tabloid Bobotoh beberapa edisi yang lalu, masalah ini harus segera di atasi, jika tidak ingin badai anarkistis menerpa kita. Obtolan ringkas dengan Pak Wali kemudian diketahui, bahwa Pemkot sangat bersungguh-sungguh untuk segera membangun Sarana Olah Raga di Gede Bage yang sudah diwacanakan mulai tahun 2002an itu, dan akan segera dimulai pada awal 2007 ini –kalau tidak mundur lagi.

Namun, walau pun pembangunannya dapat dimulai tepat waktu, tetap saja tidak bisa “..jleg!!” seketika. Dibutuhkan waktu dua – tiga tahun untuk merealisasikannya.

Lalu bagaimana mengantisipasi jumlah penonton yang akan mengalir datang pada kompetisi yang rodanya segera akan diputar ini? Padahal hitung-hitungannya, semakin dekat kompetisi digelar, dipastikan animo masyarakat juga meningkat. Artinya, boleh jadi, yang ingin menyaksikan pertandingan secara langsung akan lebih dahsyat lagi dari jumlah 40.000 kemarin. Jika sudah demikian, masalah serius akan muncul. Padahal pertandingan Liga penuh dengan aturan, yang jika dilanggar –khususnya pasal-pasal mengenai ketertiban penonton, bisa mengakibatkan Persib terkena sanksi.

Apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi ini ?

Yang pertama, tentu sikap kita dalam menyaksikan Persib bertanding. Mau itu di Si Jalak Harupat atau pun di Stadion Siliwangi, dibutuhkan sikap dewasa. Bobotoh harus memahami bahwa cinta kepada Persib juga harus ditunjukkan dengan sikap tertib saat menonton. Di Stadion Siliwangi, ketika tiket sudah habis, haruslah tidak memaksa masuk. Bobotoh yang menyadari, tentu akan dengan sukarela mendengar lewat radio atau menonton televisi.

Televisi, khususnya TVRI Jabar dan Banten, sebagai TV publik, juga haruslah berperan serta. Siaran langsung akan membantu sedikit menahan penonton berduyun-duyun datang ke stadion. Tidak ada anggaran operasional? Mulailah dari sekarang mencarinya. Kita semua ikut bertanggung jawab. Hotel-hotel dan kantor-kantor bisa ikut membuat acara nonton bareng di tempatnya. Demikian juga di kampung-kampung. Warga yang memiliki TV agak besar, bisa memberikan partisipasi dengan membuat nonton bareng, seperti piala dunia kemarin. Andai ini semua bisa kita lakukan –secara bersama-sama, Bandung telah membuat lagi satu icon terobosan kegiatan algi, selain kota wisata belanja dengan factory outlet-nya, nonton bareng Persib di berbagai tempat dapat menjadi sumber kebahagiaan baru –ditengah sumpeknya kehidupan saat ini. Wilujeng berkiprah!

Ada PERSIB di Banda Aceh

Wednesday, April 18, 2007

Dari Rabu sampai dengan Minggu 23 Desember kemarin, atas undangan UNESCO saya berada di Banda Aceh. Ini perjalanan yang tidak bisa saya tinggalkan, walau di Bandung, Tabloid Bobotoh kita sedang sangat heboh menyiapkan berbagai program. Seingat saya, ini perjalanan yang ke sekian kali setelah bencana dahsyat Tsunami yang meluluh lantakkan pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam persis dua tahun yang lalu.

Kunjungan kali ini, juga ternyata bertepatan dengan datangnya banjir di daerah Pantai Timur, yang memutus jalur transportasi darat dari Medan ke Lhok Sheumawe. Sedih juga melihat teman-teman yang lalu jadi tak khusyu lagi mengikuti pelatihan prospek Aceh ke depan setelah Tsunami, MOU Helsinki dan Pilkada ini. Jadi, mendung makin bergayut saja di ruangan, setelah mendengar sebagian dari mereka tidak bisa segera pulang ke kota asalnya, padahal beberapa diantaranya, rumah, juga ternak, ada yang terendam air hingga setinggi tiga meteran.


***

Beruntung, pada hari Sabtu, langit cerah di Banda Aceh, jadi saya menyempatkan diri jalan-jalan dengan Toyota yang dikemudikan Alex, tenaga lokal yang membantu saya sehari-hari dalam diskusi kali ini.

Di tengah longgar nya jalan, tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas. Pengemudinya, menggunakan kaus dengan tulisan besar di belakang: PERSIB..

Waduh, saya terhenyak kaget, justeru ketika saya tengah memikirkan Tabloid Bobotoh di Bandung yang akan memasuki dead line dan membayangkan teman-teman tengah pakepuk, lintasan sang pengemudi sepeda motor membuat saya meminta Alex bergegas membuntutinya.

Tak lama pengejaran itu berlangsung, di sebuah lampu merah di daerah Sinbun Sibreh, kendaraan kami berhasil merapatkan posisi di pinggirnya, lalu saya buka kaca pintu mobil, dan berteriak: “Hidup Persib..! “

Pengemudi sepeda motor, yang kemudian saya ketahui seorang Sersan tentara asal Kuningan itu tersenyum, menganggukkan kepala, dan berteriak menjawab: “Iya Kang… Persatuan Intel dan Bintal..!!”

Hahaha.. saking cintanya dia terhadap PERSIB, maka ketika kesatuannya membuat team sepak bola, maka dia cari-cari kepanjangan yang pokoknya kalau disingkat harus PERSIB. Beruntung, Komandannya sangat setuju. Jelas saja sang Komandan setuju, karena ternyata Kolonel Yudi –komandan sang prajurit, juga kebetulan berasal dari Geger Kalong. Lebih kebetulan lagi, dia ternyata teman saya kuliah dulu. Jadilah Banda Aceh tidak temaram lagi.. Kami minum kopi bertiga sambil uplek ngobrol dalam bahasa Sunda. Alex cukup baik hati membiarkan saya sejenak tenggelam dalam sono yang demikian luar biasa kepada Pangeran Biru. Hidup Persib!!

Bikin Onar? AKU TAK BIASA!

Wednesday, April 18, 2007

Ada yang menarik dari pesan pendek yang dikirim Teh Dewi di Babatan, dan dimuat di rubrik Republik Bobotoh edisi sekarang, begini bunyinya;

Ada sdkt cerita: Sy kerja di bridal, ada tamu yg mau nikah tahun depan, resepsinya di Graha Manggala Siliwangi, tapi gak jadi di situ, soalna sieun Persib. Kumaha atuh? Can nyaho nya bbth ayeuna mah geus balageur, bener teu? Dewi, Babatan.

Bobotoh, rupanya memang masih ada kesan kita biasa bertindak rusuh, sehingga sang calon empunya hajat kuatir, kita ngamuk akibat Persib eleh, dan keriaan agungnya jadi kocar kacir. Anggapan itu rupanya masih nempel di benak beberapa kalangan. Padahal, seperti Teh Dewi katakan, bobotoh sekarang sudah jauh balalageur. Tos teu aya pot tiguling atanapi kaca peupeus di Jalan Asia Afrika.

Lalu mengapa saya menulis hal ini kalau memang ternyata bobotoh sudah jauh lebih santun? Sesungguhnya, saya hanya mengingatkan; karena bangsa kita terkenal pelupa. Jadi, hari ini santun, besok bisa ribut kalau Pangeran Biru kebetulan tidak menang. Padahal Persib adalah sebuah team yang bisa kalah juga dalam satu atau dua pertandingan, bahkan bayangkan saja, team sekelas Chelsea dan Brazil juga pernah menelan pil pahit kekalahan.

Sambutan gegap gempita yang saat ini terlihat, dan keinginan untuk menjadi juara Liga, membuat puluhan ribu bobotoh akan mengalir memadati Stadion Siliwangi, padahal letak stadion yang dibangun dari hasil kencleng prajurit Kodam Siliwangi ini memang benar-benar berada pada area yang padat, dengan alur datang dan pulang bobotoh melewati daerah permukiman dan pertokoan yang merupakan kawasan genting.

Karena itu, menjadi kewajiban kita untuk saling mengingatkan terus menerus secara bersama. Dan perkara mengingatkan ini, jangan lupa, juga termasuk bagi saya sendiri , hahaha. Karena, sami mawon, saya juga kalau sudah ada di stadion mah suka larut dalam kesenangan kalau menang, dan sedih luar biasa kalau Persib kalah. Padahal Liga tinggal sebulan bergulir, jadi ya, kita siap-siaplah. Lebih baik sedia paying sebelum hujan,Jadi, ceritanya, kita sama-sama saling menjaga.

Juga mari kita niatkan, liga 2007 dan seterusnya, kalau Persib kalah, kita tidak biasa bikin onar. Sebab, tidak hanya Persib yang harus juara, kita para bobotoh juga harus jadi pemenang. Juara? Tentu saja harus. Tapi menjadi juara dengan tampilan bobotoh yang perangainya ksatria, kan lebih keren?

Pokoknya, kalah terus bikin onar? Aku Tak Biasa!

M Yusuf, Yusuf Kalla, dan Yusuf Bachtiar.

Wednesday, April 18, 2007

Kamu sudah makan, prajurit..?”

Berapa gaji kamu.., sudah punya rumah..?”

Barangkali banyak pembaca yang sudah lupa dengan ungkapan yang sering diucapkan perwira tinggi asal Sulawesi Selatan ini (Kecuali Mang Ade dan para boboko –tentunya, hahaha)

Berasal dari keluarga ningrat Bone, Muhammad Yusuf, atau biasa namanya disingkat M Yusuf, adalah jenderal bersahaja yang selalu memperhatikan kepentingan prajuritnya.

Dia periksa satu per satu anak buahnya, dia tanya mengapa sepatu nggak disemir, juga kenapa kancing bajunya copot. Di saat lain, kukurusukan berjalan di bawah jemuran, lalu terampil memberi instruksi kepada para stafnya dengan meminta segera dibangun mess tentara diberbagai kota. Jenderal ini dirindukan banyak orang kepemimpinannya.

Untuk menghormati, antara lain di Kota Makasar, dibangunlah sebuah mesjid sangat besar; Al Markaz namanya, Mesjid Raya berarsitektur cantik, dan lapangan besar di halamannya, menjadikan banyak anak muda bermain skate board dan slalom mobil.

Berlowdeski, Marketing Manager Tabloid Bobotoh, yang dulu sempat bekerja di radio Madama Makassar,bahkan pernah bikin event di halaman mesjid ini.

Ah, Pak Yusuf memberikan banyak ruang untuk generasi baru rupanya.

***

Nama Yusuf lain yang sekarang berkibar adalah Yusuf Kalla. Setelah ayahnya sukses berbisnis mobil dengan nama NV Kalla, sang putera malah menggedor-gedor dengan kiprahnya sebagai Wapres. Lincah dan gesit. SBY malah seringkali harus meredam langkah wakilnya yang cenderung agresif ini. Ah, kita masuk ke persoalan politik dan tata Negara jadinya…rieut!

Kembali ke… lap top!!

Di Makassar sendiri, setelah Piala Yusuf absen beberapa kali, maka sekarang turnamen ini diputar kembali dengan nama baru; Piala Yusuf Kalla. Persib ambil bagian dalam kejuaraan ini.

***

Adalah seorang Yusuf Bachtiar, yang menyampaikan: “Kalau saya pelatih, Yusuf Cup akan saya jadikan sebagai alat pantau kekuatan, jadi juara bagus, kalau tidak, ya gak apa-apa, sebab, pertandingan yang sesungguhnya adalah Liga” Kang Yusuf menambahkan, bahwa kalau juara, malah kuatir mental pemain terlalu senang, sehingga di pertandingan yang sesungguhnya akan menganggap enteng lawan.

Betulkah ungkapan dia? Di tengah-tengah hiruk pikuknya bobotoh yang sedang haus gelar juara dan bersedih karena kalah lawan Timnas, statemen Yusuf seperti melawan arus.

Namun bobotoh, apa yang diucapkannya, adalah benar adanya. Ini sepakbola, diperlukan tidak hanya taktik, tapi juga strategi. Biarkan musuh tidak tahu kekuatan kita sampai laga yang sesungguhnya, di liga nanti.

Jadi, ya viveri veri coloso lah… eh, politik lagi (maaf, tempat baru untuk menampung yang beginian sudah ada: Suplemen Sandek, silakan sms ke situ :)

WASIT ACAKADUT ……!!

Wednesday, April 18, 2007


Kacau! Kita dirugikan wasit! Skor 2 – 3. PSM dapat 2 penalti. Rusuh banget, Kang!”

Hyoga Pratama, wartawan TB yang bertugas ke Makassar untuk meliput Piala Yusuf, mengirim SMS kepada saya, begitu wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan Persib – PSM. Saya memang minta bantuan Hyoga untuk segera mengirim sms begitu pertandingan berakhir, soalnya siaran langsung RRI tiba-tiba berhenti saat skor 2 – 2. Redaksi di Mohammad Ramdan kelimpungan mencari informasi akhir, saat bobotoh krung kring dan sms bertanya skor..

***


Seringkali sebuah turnamen di dalam negeri diwarnai oleh keputusan-keputusan kontroversial wasit. Tuan rumah selalu diuntungkan, dan team tamu ngegel curuk dirugikan.. Ujungnya, mutu turnamen di dalam negeri terus memburuk.

Tekanan penyelenggara termasuk penonton, memang seringkali membuat keputusan wasit sangat menjengkelkan. Kalau hanya bersandar kepada target juara dan kemenangan semata, kita nyaris tidak akan memetik pelajaran apa-apa.

Oleh karena itu, seperti saya tulis minggu lalu, adalah penting untuk menjadi pemenang. Tetapi kita juga harus siap menerima situasi paling jelek. Sesungguhnya, menang dengan sikap bermain dan penonton yang baik, adalah kemenangan yang sebenar-benarnya. Dan Persib melakukan itu di Makassar kemarin. Bermain habis-habisan sampai kemudian bobotoh marah betul ketika wasit kita lihat bertindak amburadul ngaco dan acakadut!!.


Okay, hari ini mungkin kita sudah tidak terlalu marah dengan wasit itu, sekarang kita harus mulai berfikir: Ada pertandingan-pertandingan tandang yang harus kita hadapi saat Liga bergulir nanti. Kelakuan wasit ngaco mungkin akan kita hadapi lagi. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Di tengah, Cabanas harus lebih taktis mengirim bola ke duo Babe. Harus bola-bola jadi, bukan bola liar yang sulit dieksekusi dan menghabiskan banyak energi untuk mengontrolnya. Jangan biarkan juga Barkoui kelelahan mencari bola sampai ke belakang. Latihan aliran antar unit mungkin yang harus diintensifkan Iurie. . Persib harus terampil membuat banyak goal pada tandang.

Di belakang, tackling-tackling keras harus diperhalus dengan segera membabat habis bola yang mengalir ke daerah kita sebelum masuk area penalti. Patricio harus bermain lugas. Tidak ada gocek-gocek yang bisa membahayakan gawang sendiri itu.

Bobotoh, masukkan teknis di atas datang dari Rukma, Pemain Persib yang adalah sang pembuat sejarah, beliau melesakkan satu goal ke gawang Uni Soviet, saat team nasional melawan Negara yang dulu berjuluk tirai besi itu. Juga dari Encas Tonif, pemain belakang Persib yang sohor dengan kelugasannya, serta si jenderal lapangan tengah yang cerdik Yusuf Bachtiar, Mereka bertiga sengaja diundang dating ke redaksi TB untuk menganalisa lini demi lini hasil pertandingan Persib vs Makasar secara teknis.

Kita harus Juara di Liga 2007!! Bravo Persib!!


Kang Jumadil, dan Gaji yang Terlambat.

Adalah Kang Jumadil, tokoh Beulah Jambe edisi lalu yang masygul dan hanjelu karena pemain Persib sekarang ditengarai kurang apal sejarah jaya Persib di Piala Yusuf.

Lalu, jika Kang Jumadil melihat hasil uji coba Persib lawan team Pra PON di Purwakarta yang berakhir seri, barangkali beliau malah akan menangis sesunggukkan, karena –menurut surat kabar telah bermain loyo dan kurang motivasi.

Tentu tidak semua pemain -yang secara fisik, bermain kelelahan, dan secara moral berlaga dengan motivasi yang rendah.

Namun apabila benar sang maung muyung karena fisik masih saja belum pulih setelah turnamen di Makasar, padahal galibnya pemain professional, secara fisik harusnya mereka tetap mesti lebih baik dibandingkan dengan team yang dihadapi.

Nah, kalau secara moral loyo karena konon alasan terlambat mendapat gaji, Kang Jumadil pastilah bukan lagi hanya menangis tapi malah bakal schock!

Betapa tidak,dulu jamannya perserikatan, pemain boro-boro diganjar uang ratusan juta rupiah, dapat rumah tipe 21 saja sudah alhamdulillah.

Tapi kang Jumadil lupa, sekarang jamannya beda sama dulu, lagi pula sudah ada manajemen yang punya tanggung jawab menyelesaikan hal itu. Jadi, manajemen mungkin bekerja lamban untuk mengurusnya dan ketika dana belum tersedia –karena butuh birokrasi dan persetujuan, bukan seperti kas perusahaan sendiri yang hari ini setuju besok uang mengalir, mereka tidak sigap mencari dana penyangga untuk keperluan itu.

Tapi, khusus untuk gaji, yang jumlahnya puluhan juta (mungkin ratusan?) rasanya kurang fair juga jika kita hanya menyalahkan mereka, apalagi –konon pihak yang paling sering dikritik ini tidak bergaji pantas, dan malah menomboki berbagai keperluan. Mereka bekerja karena cinta, pengabdian , dan tugas.

Pemain? Masih mending ada pengharapan bergaji lumayan –walau telat sepuluh hari.

Bobotoh, kita harus dukung terus komitmen pemain berlaga, tetapi tentunya secara kritis. Mengapa? Karena kita sayang Persib. Persib sangat berharga. Kalau mereka bermain habis-habisan –walau sampai kalah seperti di Makasar misalnya. Tapi kalau bermain tanpa motivasi…? Punten pisan…, kami kecewa.

Manajemen Persib rasanya perlu membuat session-session untuk motivation building dari para sesepuh Jabar dan ikon-ikon seperti Solichin GP, Himendra, Ateng Wahyudi, Adjat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Rukma, Encas,…Kang Ibing, Panglima Siliwangi.., Panglima Viking…. Agar Persib bisa terus jadi jajaten Jawa Barat, siap tandang, siap makalangan!



PINGGIR LAPANG

Kartu Kuning Pertama untuk Panpel!

Karena kita semua cinta Persib, karena Persib menggunakan APBD 15M yang harus dipertanggungjawabkan dengan prestasi yang baik, dan kita juga mengetahui Persib mendapat hukuman Komdis akibat melubernya bobotoh ke dalam stadion, serta karena stadion berkapasitas besar belum dibangun, padahal pertandingan akan terus dilaksanakan di Stadion Siliwangi sampai LDI 2007 selesai, maka, dengan berat hati, kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

Bobotoh, hindarkan datang ke Stadion Siliwangi kalau sebelumnya tidak memiliki tiket.

Jika tetap ingin datang, mari berlaku tertib duduk-duduk di luar, tidak mencoba masuk ke dalam stadion. Bikin saja keriaan di luar: Joget, nyanyi, dll. Teman-teman radio (Dahlia, Rama, Garuda, Paramuda) Barangkali bisa pasang sound system, dan me-relay RRI? Agar bobotoh berkumpul di depan OB Van anda.

Jika ada siaran langsung Anteve atau Lativi, instansi atau kelompok bobotoh bisa mengadakan acara nonton bareng di tempatnya.

Petugas kemanan sebaiknya diplot juga di luar semua gerbang pintu masuk, bukan hanya di dalam stadion.

Petugas keamanan mulailah merazia calo, dan investigasi, dari mana tiket mereka berasal.

Petugas keamanan tidak melihat lapang, tetapi melihat ke arah penonton.

Kepada Panpel, sudahkah hal-hal di atas dikoordinasikan? Sudahkah meminta radio mendukung panpel untuk penggunaan OB VAN nya?

Sudahkah membuat kerjasama yang solid dengan TV lokal untuk membuat dan mengoperasikan giant screen dengan lebih serius?

Sudahkah membuat laporan tertulis kepada pihak kepolisian mengenai banyaknya terjadi praktek percaloan karcis?

Sudahkah berbicara dengan komandan petugas keamanan,atau pimpinan organisasi yang bertugas pada pengamanan tiket masuk, mengenai adanya oknum anggota mereka yang membuat terjadinya tiket kriting?

Sudahkah melakukan itu?

Jangan lupa, kewajiban Panpel,seperti tertulis dalam manual liga Indonesia 2007 Bagian C, tentang penyelenggaraan pertandingan, pasal 8: Menjamin keamanan, ketertiban, kenyamanan, dan keselamatan penonton.

Seharusnya Panpel bersyukur, karena Persib selalu dicintai bobotohnya, sehingga tidak kurang penonton. Yang harus dilakukan, tinggal bagaimana mengendalikan mereka di lingkungan stadion. Bayangkan dengan team lain: Pendukungnya terbatas, yang datang ke stadion sedikit. Panitia pelaksananya pasti akan lebih pusing menghadapi situasi ini. Ingat saja dengan Sutiyoso, yang harus membagi-bagikan kaos dan atribut serta tiket masuk gratis untuk membuat pertandingan Persija ada yang menonton. Kita? Jangankan mendapat terimakasih dengan layanan kepada pembeli tiket yang telah membayar dengan harga tertinggi di Indonesia itu, eh, malah sudah masuk pun harus tetap sengsara tidak mendapat tempat duduk.

Saudara, maaf, menurut manual liga, sekali lagi, itu adalah tugas panpel, lain tidak!


BOBOTOH MENEROBOS, SEBENARNYA MAMPUKAH PANPEL KITA?

Di tengah kerumunan orang yang menyemut di bibir jalan, dua mobil -yang salah satunya dikendarai Alex Asmasubrata, dipacu dengan kecepatan 150 km per jam di Jalan By Pass Soekarno Hatta,depan Polda Jabar. Pada saat yang sama, saya berdo’a dengan Almarhum Keith Robino –pengurus IMI Pusat, dan Project Officer yang saya tunjuk. sambil jantung ketar-ketir di ujung jalan, takut mobil peserta tiba-tiba oleng tidak terkendali dan menabrak penonton yang berdiri padat tanpa penghalang. Kami berdo’a agar hujan maha lebat terjadi, sehingga lomba bisa kami hentikan.

Itu adalah peristiwa sekitar 15 tahun lalu, saat radio yang saya pimpin menggelar event national drag race.

Sepulang dari venue, saya panggil PO, dan kita evaluasi, agar peristiwa serupa tidak terulang.

Kejadian kedua yang juga bikin ketar-ketir, adalah sebuah konser tunggal dari sebuah band Amerika, kelompok pengusung aliran reggae, Inner Circle, yang saat itu lagunya,

a la la la lalong, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia. Kami membuatnya di Eldorado Dome, jalan Setiabudi.

Pertunjukkan seharusnya dimulai jam 21.00. Namun, sampai pukul 23.00, Inner Circle keukeuh menolak tampil, karena drum machine yang mereka bawa, tertinggal di Cengkareng, Jakarta. Saya mencoba membujuk mereka untuk tetap tampil tanpa alat vital itu, karena kekeliruan tidak berada di pihak saya, melainkan akibat kecerobohan crew mereka sendiri dalam mengamankan peralatan, di tengah-tengah teriakkan penonton yang mulai tidak sabar menginginkan pertunjukkan segera dimulai karena malam makin larut. Berbekal pengalaman mengelola drag race, saya segera minta Denny dan Iszur untuk naik ke atas pentas mengocok perut pengunjung yang hadir, sehingga mereka bisa sedikit ditenangkan.

Dua peristiwa itu selalu saya ingat sampai sekarang, kesimpulannya adalah, saya dan team tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan segala aspek, sehingga keruwetan yang berkaitan dengan jalannya lomba dan pertunjukkan terjadi.


Tiga hari yang lalu, saya ditelefon Pak Anhar Sanusi, Viking BOBOKO, yang bercerita mengenai kurang profesionalnya Panpel Persib, sehingga bobotoh merangsek ke pinggir lapangan. Saya setuju dengan Pak Anhar. Seperti yang saya alami dalam event drag race di atas, maka kehebohan itu terjadi karena kita sebagai penyelenggara, tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengatasi lonjakkan penonton. Saya tidak boleh menyalahkan siapa pun. Karena kesalahan sepenuhnya berada di pundak saya atas kekeliruan saya menunjuk Project Officer, karena penyelenggaraan event itu memang hajat saya. Saya yang mengundang penonton datang, langsung atau tidak langsung.

Stadion Siliwangi yang kecil,dari dulu pun kita sudah tahu. Bobotoh yang selalu datang membludag ke stadion, sejak tahun kemarin, ketika prestasi Persib jelek, juga semua orang sudah tahu. Karcis kriting yang bolak-balik membuat orang masuk ke stadion, juga bocornya penonton yang leluasa masuk dengan harga Rp 3.000,- dan mengakibatkan penuh sesaknya stadion di luar batas kapasitasnya, semua orang juga sudah tahu.

Namun, peristiwa ini berulang terus, tanpa pembicaraan, diskusi serius, dan penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah itu.

Tudingan malah diberikan kepada stadion yang kecil, Anteve yang tidak menyiarkan, dan seribu alasan lainnya. Padahal titik pokoknya adalah, panpel, tidak bersungguh-sungguh menyiapkan perangkat untuk secara preventif menjaga penonton di dalam dan luar stadion, agar peristiwa Selangor tidak terulang.

Kita akan menghadapi hajat besar lagi menghadapi PSMS dan Persija. Disiarkan atau tidak oleh ANteve, bobotoh akan membludak datang ke Stadion Siliwangi. Adalah sebuah keharusan, jika Panpel, mulai hari ini, secara bersungguh-sungguh mulai membicarakan penanganan penonton dan mereka yang tidak bisa masuk ke stadion, bersama aparat keamanan, pimpinan-pimpinan kelompok bobotoh, dan berbagai unsur lainnya, sehingga nama Persib dan Bandung tidak tercemar oleh ketidakmampuan kita sebagai penyelenggara dalam mengelola pertandingan. Jangan sampai harus ada korban terlebih dahulu untuk mulai melakukan perbaikan. Selamat bekerja!


Ayoo, BOBOTOH for PERSIB!

Asyiiiik, kita menang! Sebuah hasil yang sangat nikmat, karena selain pemain telah mempertontonkan permainan yang luar biasa, juga kemenangan ini harus kita syukuri, karena Persik Kediri adalah juara liga tahun lalu. Kemenangan ini, seperti dikatakan Kang Yosi, menjadi jalan pembuka lebar bagi Persib untuk mengarungi ganasnya ajang kompetisi Liga Djarum Indonesia 2007.


Selanjutnya, di luar sorotan hasil pertandingan kemarin, seperti banyak ditulis media, Persib adalah memang sebuah team yang besar.

Apa ukuran sebuah team dikatakan besar? Tentu karena banyaknya prestasi yang telah diukir Persib selama ini. Dengan kata lain, mustahil sebuah team dikatakan besar atau elite, jika prestasi nya nol.

Berbicara prestasi, bagi sebuah team sepakbola pasti didapat oleh kerjasama dan keterpaduan pengurus, manajemen, dan pemain itu sendiri. Kerjasama dan kerja keras unsur-unsur itulah, kemudian menghasilkan prestasi. Persib kemudian bisa dikatakan sebagai team bernama besar, karena memang beragam prestasi telah diperoleh, sehingga menjadi tidak hanya sekedar kesebelasan kesayangan masyarakat Bandung, bahkan telah menjadi ikon dan jajaten Jawa Barat.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita menghargai mereka yang telah memberi nama harum itu?

Kita mendengar pengurus dan manajemen bekerja tanpa honor. Bahkan Pak Wowo Sunaryo, yang berjuluk Macan Asia, dan kini terbaring sakit di RS Immanuel akibat maag akut, ginjal, dan stroke ringan, dengan sangat terpaksa oleh pihak keluarga akan dibawa pulang karena tidak sanggup dibiayai perawatan sakitnya.

Beruntung ada H. Chandra Solehan yang akan menggalang dana untuk meringankan beban keluarga Pak Wowo, sehingga perawatannya bisa dilanjutkan di Imannuel.

Sebuah langkah mulia, tapi kemudian membuat kita merenung; Berapa banyak lagi Wowo-Wowo lainnya yang juga mengalami nasib yang sama? Dan kemudian mengalami kesulitan ekonomi karena sudah terpental dari putaran zaman?

Bobotoh, kita harus bertindak. Persib memerlukan dukungan dana, sebutlah semacam Dana Abadi, yang bunganya bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Tabloid Bobotoh, setelah menggulirkan program Udunan untuk Stadion, yang kemarin distop sementara, karena kondisi yang ada menggulirkan kembali udunan ini. Bekerja sama dengan Bank Saudara, mulai minggu ini kita menggulirkan program dengan nama: Bobotoh for Persib. Beberapa penyumbang yang sudah masuk kami tampilkan mulai edisi ini. Harapan kami, seberapapun seumbangan yang diberikan nantinya, akan menginspirasi semua pihak –perorangan, perusahaan, bahkan media secara bersama, untuk mulai melancarkan dukungan finansial untuk Dana Abadi bagi Persib. Ayo kita mulai, semoga Allah bersama kita. Bismillah..

Ini dia, Provinsi Surplus Stadion!!

Membaca koran Pikiran Rakyat minggu lalu, saya memperoleh sesuatu yang bikin tersenyum dan rada keuheul. Kesimpulan beritanya adalah, pernyataan akan direnovasinya Stadion Siliwangi agar kapasitas penontonnya bisa ditingkatkan,. lalu statement Walikota Bandung Pak Dada Rosada yang akan menyegerakan membuat stadion di Gedebage, dan terakhir, ternyata Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berencana akan membuat stadion di Padalarang.

Yang membuat saya tersenyum adalah, ya.. , itu.. , soal tiga stadion itu. Di tengah-tengah ripuhna pengen nonton Persib di Siliwangi -yang pasti kalau go show hanya akan mendapat tiket di calo dengan harga dua kali lipat, eh ini mah nggak tanggung-tanggung, para pejabat semuanya pada sibuk mau bikin stadion besar sendiri-sendiri, sampai kalau jadi dan dijumlah, diseputar Bandung Raya akan ada empat stadion sekaligus : Siliwangi, Gedebage, Padalarang, dan Si Jalak Harupat di Soreang.

Sumpah, saya kehabisan ide untuk menjelaskan kepada isteri saya –Ika, yang bertanya, kenapa mereka nggak duduk sama-sama satu meja, lalu merundingkan agar sesegera mungkin ke tiga pihak yang sangat kompeten itu membuat stadion besar baru satu saja dengan biaya bersama. Kalau hal itu dilakukan, rasanya sang stadion impian itu akan cepat terealisasi dan biaya pun jadi ringan karena ditanggung beberapa pihak.

Kenapa mereka tidak melakukannya? Awas! Jangan berpikir yang tidak-tidak, bahwa dengan begitu pejabat bisa korupsi dari pembangunan stadion! Tapi berpikir lurus saja: Ini akibat masalah laten: Kurang koordinasi, atau masing-masing memang tidak pernah saling ngobrol soal stadion, yang selalu diangkat koran, tv lokal, radio, dan tabloid ini di setiap ada kesempatan.

Menurut saya, barangkali akan ideal, jika kesulitan Pemkot Bandung dalam upayanya untuk membangun stadion bagi kandang Persib lebih didahulukan, dengan dukungan dan kerjasama berbagai pihak. Sebab jika hal ini tidak segera dilaksanakan, maka jumlah penonton dan kapasitas Stadion Siliwangi yang sudah sangat tidak memadai itu akan dapat menuai cerita yang mengerikan: Kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat penonton yang berdesakkan bisa terjadi. Ingat Tragedi Heysel!! Ingat juga peristiwa tawuran di Itali akibat keamanan stadion yang kurang memadai. Iiihh! Jadi ngeri kalau melngingat hal itu. Amit amit, jangan sampai terjadi di sini.

Jika koordinasi dilakukan, juga tentunya Stadion untuk Persib tidak akan terjadi seperti cerita Si Jalak Harupat yang bangunannya gagah perkasa itu, tapi jalan akses masuk dan keluarnya sungguh sangat memprihatinkan.

Punten pisan saya menulis ini, da sumpah, saya bingung ngabandunganana. Asa rudet mikiran stadionn yang gak jadi-jadi karena memang biayanya super gede itu. Barangkali ada pejabat yang bisa menjelaskan? Atau kita ganti saja nama provinsi Jawa Barat yang asalnya kekurangan stadion ini jadi Provinsi Surplus Stadion?

KAMI BERUBAH

Terimakasih kami sampaikan kepada anda, yang telah berkenan membantu kami lewat polling yang telah diselenggarakan dalam pengambilan keputusan untuk mempercepat penggantian jenis kertas Tabloid Bobotoh dari HSSD menjadi NPSD (News Paper Standard). Sehingga mulai edisi ke-17 ini , anda akan memperoleh Tabloid Bobotoh dengan menggunakan kertas standard surat kabar, dan bukan lagi kertas putih.


Sidang pembaca yth, semenjak awal, sebenarnya kami sangat ingin untuk langsung menggunakan kertas koran sebagai medium tabloid ini, karena format TB yang padat tulisan akan menjadi tidak nyaman jika dicetak pada kertas putih. Akan melelahkan mata.

Juga, karena sources bahan pembuatannya yang makin terbatas, jenis kertas putih pada masa yang akan datang harganya akan jauh melampaui harga kertas koran. Sebagai bandingan, koran-koran dan tabloid besar baik di dalam dan di luar negeri sangat menjauhi jenis kertas putih, karena pertimbangan di atas. Itulah mengapa, kemudian mereka mampu memberikan jumlah halaman yang tebal kepada pembacanya, karena biaya produksi bisa ditekan. Itu juga keinginan kami untuk dapat terus memanjakan bobotoh sekalian ke depan, bagaimana TB bisa hadir lekas, lengkap, dan tuntas.

Mengapa kertas HSSD kami pilih? HSSD adalah jenis “tengah-tengah” antara kertas putih dan kertas koran. Kertas yang kami pilih sebagai kompromi antara pasar dan positioning kami.

Dalam perjalanannya, banyak masukkan kepada kami dari pembaca agar TB menggunakan kertas putih disertai catatan tidaklah mengapa harga TB naik, namun kami belum bisa memenuhi tuntutan itu. Karena target kami adalah, bagaimana TB bisa dibaca oleh sebanyak-banyaknya masyarakat Jawa Barat. Pembaca harus bisa mendapatkan TB dengan harga terjangkau.

Untuk itulah, setelah 15 edisi, kami mencoba mengukur seberapa besar resistensi kepada TB apabila merubah kertas, maka kami mencoba melakukan polling. Hasilnya, ternyata dari 321 peserta yang mengirim masukan, 289 menyatakan setuju kertas berubah, dan sisanya (32) tidak. 100 orang pengirim sms pertama, kami muat pada kolom sebelah untuk mendapatkan hadiah subsidi tiket. Tentu hadiah yang sangat tidak berarti dibanding peran serta anda menuntun kami dalam membuat keputusan.

Kemudian, karena pembaca mayoritas menyetujui perubahan, maka dengan serta merta pula kami langsung mempercepat perubahan kertas, mulai edisi ini. Kami tampil full color, dan 2 minggu sekali kami berikan bonus poster dengan bahan art paper, agar anda bisa memajangnya dalam waktu yang lama.


Soal APBD: Mikir Jangan Ngaco!!

Suara sangat tidak merdu yang dinyanyikan Mendagri minggu lalu, benar-benar telah mengganggu harmonisasi irama yang dikumandangkan menyongsong bergulirnya Liga Indonesia XIII.

M. Machruf dan beberapa kalangan hanya melihat sisi negatif: Kucuran dana APBD untuk klub hanya menjadikan dana untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan anggaran pembangunan lainnya tidak optimal, karena sebagian dana dikuras untuk klub dengan prestasi yang menurutnya tidak pantas.

Nada minor lain yang disebutkan adalah, kucuran APBD itu hanya menjadi alat kendaraan politik agar bupati atau walikota terpilih lagi pada pemilihan berikut.

Inilah wajah negara yang baru keluar dari kandang keterkungkungan, pendulum kita cenderung bergerak ke arah ekstrem: Setiap langkah selalu saja dikait-kaitkan dengan politik. Juga ketika pendulum ada di sebaliknya: Ketika masih terkungkung, dengan bisik-bisik selalu saja ditiupkan rumours politik. Masalah yang sebenarnya sederhana, jadi melebar kesana-kemari.

Dana APBD bagi klub, sami mawon, jadi konsumsi politik juga. Sedemikian salah kaprahnya beberapa anggota DPRD berpikir; membandingan kucuran dana klub dibandingkan dengan anggaran pendidikan dan kesehatan. Lia Nurhambali dalam wawancara dengan Bandung TV mengatakan: Dana Tunjangan anggota DPRD hanya 2,5 M, bandingkan katanya dengan Persib yang 15M. Saudara, pernyataan ini betul-betul tidak nyambung, dan salah konteks

Mengapa? Sebab yang betul adalah: Pendidikan penting, kesehatan penting, bikin jalan penting, dan Persib? juga penting.

Apa pentingnya dana bagi Persib?

Kolom saya yang terbatas jelas tidak akan cukup menampung penjelasan tentang urgensi mengapa Persib dan klub-klub harus disokong APBD. Tapi, saya coba saja walaupun terbatas:

Membangun bangsa, juga harus disertai membangun moral dan spirit. Orde baru gagal total karena basis pembangunan hanya bersandar pada fisik semata.

Kebudayaan, kesenian, dan olahraga tidak tersentuh dengan baik. Bahkan dipinggirkan. Padahal jangan lupa, ketahanan bangsa, bisa dibangun lewat olahraga. Jadi kalau ada penyimpangan tentang mekanisme bantuan, pelaporan yang sering dianggap tidak rinci, ya benerin saja, bukannya harus distop. Nyamuk satu, kok rumah yang dibakar, kelewatan sekali!

Pak Maruf dan anggota dewan pasti terkejut, kalau akibat Persib, Eka Ramdani lebih dipuja ketimbang David Beckham. Tidak percaya? Mangga jalan-jalan, dan tanya anak-anak SMP. Zainal Arief, dicintai disamping bintang film F-4 dari Taiwan itu. Banyak kamar anak muda memasang poster mereka. Sungguh sangat luar biasa, ketika banyak orang muda Indonesia berpaling ke barat, karena tidak menemukan pemimpin panutan di negerinya, di Bandung, sebagian dari mereka mulai mencintai anak bangsanya sendiri.

Sedikit lagi: Negara adidaya Amerika menggelontorkan uang milyaran dollar untuk amerikanisasi dunia lewat film dan kebudayaan serta NBA. Kita? 15M saja hebohnya minta ampun.

Sungguh, ada yang salah dengan cara berpikir kita. Ngaco banget, Sumpah!