Tulisan Bang Akbar di dindingnya, menyergap saya:
"Sistem konstitusi Indonesia memang mengarah pada negara kesejahteraan. Seperti yang terdapat dalam Pasal 33 dan 34 UUD 45. Akan tetapi dalam 63 tahun kemerdekaan RI dan sepuluh tahun reformasi, negara kesejahteraan memang belum tercipta". Begitu Bang Akbar menulis.
Saya jadi tergelitik, dan menambahkan pada dinding facebook beliau itu; "Jadi, mengapa 'sang kesejahteraan' itu lama tercipta? Rakyatnya yang ogah sejahtera? Pasti tak mungkin. Atau...para pemimpin yang belum mampu mengarahkan biduk?"
Catatan kaki itu saya tulis, karena beliau adalah mantan pemimpin -dan pasti masih, karena banyak hadir pada lingkungan para pengambil keputusan di lingkaran satu.
Juga banyak iklan hari-hari ini mengenai upaya pengentasan kemiskinan, dan soal-soal yang lebih tahu tentang cara penyelesaiannya yang ditampilkan oleh -juga mantan para pemimpin.
Walah, dunia jadi kebalik-balik. Yang bertanya bukan masyarakatnya. Tetapi para pemimpinnya.
Untunglah ada Candi Sinaga, begini bunyi catatannya: " Kata orang nih kang Indra, janji kesejahteraan negara hampir seburuk janji masuk sorga...." Hahahahahaha.
Saya sebetulnya hampir lebih dari 80% yakin, ucapan itu bukanlah "kata orang", melainkan pikiran Candi sendiri, yang -tidak tahu sekarang di NZ, tapi di Jakarta, sepanjang yang saya tahu, gak ada cerita Candi bilang: "Gua pamit dulu, mau ke gereja!" Huehehehe.
Aahhh.. senangnya ketemu teman-teman lama. Teman-teman yang seru dan keren!
Buruan balik ke Indonesia, Can! Kalau Poltak sudah masuk Partai Kay Pang, kita bikin partai: PARTAI SERIBU JANJI SURGA UNTUK SEJAHTERA. Yuuuuuk? Eh..Poltak, anda mau bergabung juga?
Tks, untuk Bang Akbar Tanjung, Candi Sinaga, dan Poltak Hotradero, Daniel Tumiwa, Rochsan Rudiyanto, Jony Suharyono, Agus Amarullah
14 November 2008
MENGAPA JK SELALU DICURIGAI?
Tulisan berikut adalah komentar saya atas tulisan Pepih Nugraha di Kompasiana tentang JK.
Dari sekian banyak politisi yang ada di Indonesia, menurut saya, maaf: JK adalah kampiunnya.
Dia sangat-sangat pintar membaca situasi, dan bukan alang kepalang gesitnya.
JK juga memiliki penguasaan materi yang hebat. Tidak hanya ekonomi (tentu saja karena dia saudagar) tetapi juga hampir semua masalah yang lain.
Bahkan ketika JK ‘menyerang’, maka yang dia lakukan bukan kepada individu, tetapi kepada masalah. Dengan cara ini, JK bisa langsung keluar dari perdebatan personal dengan lawan-lawannya.
Dia juga tahu diri. JK pasti tahu dan sudah mencoret-coretnya; bahwa pilihan masyarakat dalam mencoblos Golkar, tidak selalu sama contrengannya saat memilih presiden.
Artinya, Golkar bisa menang di pemilihan kursi DPR, tapi bisa loyo saat pilpres.
Karena itulah, jika JK tidak bernafsu (seperti kawan-kawannya separtai itu) dan hanya melandaskannya kepada oret-oretan ala saudagar itu, maka yang akan dilakukan dan dipilihnya adalah: Tetap menjadi Wapres untuk 2009.
Sekali lagi, bukan karena dia tidak cakap, melainkan karena Pemilu 2009 adalah pemilihan paket Capres dan Cawapres.
Dari berbagai pilihan yang ada nanti, ia akan ‘biarkan Golkar menggonggong, JK akan jalan sendiri’ Dengan sepenuh keyakinannya.
Dari sekian banyak politisi yang ada di Indonesia, menurut saya, maaf: JK adalah kampiunnya.
Dia sangat-sangat pintar membaca situasi, dan bukan alang kepalang gesitnya.
JK juga memiliki penguasaan materi yang hebat. Tidak hanya ekonomi (tentu saja karena dia saudagar) tetapi juga hampir semua masalah yang lain.
Bahkan ketika JK ‘menyerang’, maka yang dia lakukan bukan kepada individu, tetapi kepada masalah. Dengan cara ini, JK bisa langsung keluar dari perdebatan personal dengan lawan-lawannya.
Dia juga tahu diri. JK pasti tahu dan sudah mencoret-coretnya; bahwa pilihan masyarakat dalam mencoblos Golkar, tidak selalu sama contrengannya saat memilih presiden.
Artinya, Golkar bisa menang di pemilihan kursi DPR, tapi bisa loyo saat pilpres.
Karena itulah, jika JK tidak bernafsu (seperti kawan-kawannya separtai itu) dan hanya melandaskannya kepada oret-oretan ala saudagar itu, maka yang akan dilakukan dan dipilihnya adalah: Tetap menjadi Wapres untuk 2009.
Sekali lagi, bukan karena dia tidak cakap, melainkan karena Pemilu 2009 adalah pemilihan paket Capres dan Cawapres.
Dari berbagai pilihan yang ada nanti, ia akan ‘biarkan Golkar menggonggong, JK akan jalan sendiri’ Dengan sepenuh keyakinannya.
BRAVO POLITIKUS ONLINE!!
Saat ini marak para politisi beronline. Mereka membuka diri di internet, antara lain lewat Facebook, dll.
Apa manfaatnya untuk kita? Bisakah mereka lalu lebih mampu mendengar suara masyarakat yang disampaikan lewat blog atau facebooknya?
Bisakah mereka jadi lebih dekat dengan masyarakat?
Atau ini hanya menjadi ajang mengikuti trend sekaligus berpromosi diri saja?
Sebuah pertanyaan yang barangkali akan dijawab dengan anggukan.
FesBuker..
Salah satu problem para politisi kita adalah sulitnya mendapatkan informasi pembanding dari luar gedung Senayan, itu terjadi karena, antara lain jadual rapat yang sangat padat, dan pemanfaatan waktu reses yang tidak optimal.
Membuka situs; blog, plurk, facebook, dll, adalah sarana awal untuk bersiap mendapatkan sisi lain itu.
Keterbukaan akses ini, lambat laun akan mendekatkan mereka dengan suara-suara yang berbeda dari masyarakat yang diwakilinya. Dari situ kebijaksanaan yang lebih berwawasan multi pandangan akan tercapai. Tidak sempit -apalagi hanya memikirkan kelompok dan suara partainya semata.
Memang tidak ada sesuatu yang bisa selesai dalam satu hari. Semuanya membutuhkan proses.
Selamat datang di dunia online, dunia di mana kita bisa langsung 'broad' pikiran dan catatan ke seluruh alam maya, tetapi sebetulnya juga menjadi sangat individual. Sehingga rupa rupa pandangan akan semarak datang bertubi-tubi sampai pada halaman web, blog, dan sarana-sarana lain internet yang dimiliki para politikus ini!
Selamat 'menghandle' komentar-komentar itu dengan baik, politikusi!
Dan..., jika sang politikus bisa melakukannya, dia adalah masa depan kita itu.
Jadi.., bravo politikus online!
Apa manfaatnya untuk kita? Bisakah mereka lalu lebih mampu mendengar suara masyarakat yang disampaikan lewat blog atau facebooknya?
Bisakah mereka jadi lebih dekat dengan masyarakat?
Atau ini hanya menjadi ajang mengikuti trend sekaligus berpromosi diri saja?
Sebuah pertanyaan yang barangkali akan dijawab dengan anggukan.
FesBuker..
Salah satu problem para politisi kita adalah sulitnya mendapatkan informasi pembanding dari luar gedung Senayan, itu terjadi karena, antara lain jadual rapat yang sangat padat, dan pemanfaatan waktu reses yang tidak optimal.
Membuka situs; blog, plurk, facebook, dll, adalah sarana awal untuk bersiap mendapatkan sisi lain itu.
Keterbukaan akses ini, lambat laun akan mendekatkan mereka dengan suara-suara yang berbeda dari masyarakat yang diwakilinya. Dari situ kebijaksanaan yang lebih berwawasan multi pandangan akan tercapai. Tidak sempit -apalagi hanya memikirkan kelompok dan suara partainya semata.
Memang tidak ada sesuatu yang bisa selesai dalam satu hari. Semuanya membutuhkan proses.
Selamat datang di dunia online, dunia di mana kita bisa langsung 'broad' pikiran dan catatan ke seluruh alam maya, tetapi sebetulnya juga menjadi sangat individual. Sehingga rupa rupa pandangan akan semarak datang bertubi-tubi sampai pada halaman web, blog, dan sarana-sarana lain internet yang dimiliki para politikus ini!
Selamat 'menghandle' komentar-komentar itu dengan baik, politikusi!
Dan..., jika sang politikus bisa melakukannya, dia adalah masa depan kita itu.
Jadi.., bravo politikus online!
Langganan:
Entri (Atom)


